Sabtu, 18 April 2026

Rumah Naskah Nusantara Ciamis Menyelamatkan Warisan Leluhur dari Lembaran yang Lapuk

Di balik lembar-lembar kertas usang yang nyaris tak terbaca, tersembunyi jejak peradaban, petuah moral, dan kisah leluhur yang hampir punah oleh zaman

Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/ai sani nuraini
DIGITALISASI - Ketua Yayasan Rumah Naskah Nusantara, Gunari Putra Erisman saat mempraktikan proses digitalisasi naskah kuno menggunakan kamera DSLR dan alat pendukung lainnya. 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini


TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Di balik lembar-lembar kertas usang yang nyaris tak terbaca, tersembunyi jejak peradaban, petuah moral, dan kisah leluhur yang hampir punah oleh zaman. 

Dengan tekad tak tergoyahkan, Gunari Putra Erisman, M.Hum, Ketua Yayasan Rumah Naskah Nusantara, sebuah lembaga yang bergerak dalam ikhlas menyelamatkan naskah-naskah kuno yang nyaris dilupakan.

“Dulu kami resah, banyak naskah di masyarakat mulai lapuk, rusak, bahkan hilang begitu saja. Dari keresahan itu, lahirlah Rumah Naskah,” ujar Gunari, saat ditemui di sekretariat Rumah Naskah Nusantara di Desa Ciharalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Selasa (15/7/2025).

Komunitas ini berdiri sejak 2014, namun atas kolaborasi dengan berbagai pihak komunitas tersebut mulai dilegalkan melalui SK Kemenkumham pada tahun 2024.

Rumah Naskah Nusantara hadir, bermula dari kegelisahan intelektual beberapa anak muda yang menyadari bahwa tak banyak yang peduli pada naskah-naskah tua yang tersebar di sudut-sudut desa, khususnya di wilayah Tatar Galuh, Ciamis

Kini, mereka telah mendigitalisasi lebih dari 120 naskah dan menyimpan 13 naskah asli yang dipercayakan oleh masyarakat.

Bersama timnya, Gunari seorang lulusan Filologi Unpad itu rutin menyusuri kampung demi kampung, bukan untuk membawa pulang naskah, melainkan mendokumentasikannya di tempat asalnya.

 “Kami hanya mendigitalisasi. Naskah tetap akan berada di tempatnya. Itu warisan keluarga, bukan milik kami,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gunari menjelaskan beberapa kendala saat akan melakukan digitalisasi naskah yakni banyak pemilik naskah enggan membuka diri karena trauma, pernah ada pihak yang meminjam naskah, lalu tidak pernah mengembalikannya. 

“Kami datang dengan pendekatan humanis. Pelan-pelan kami bangun kepercayaan. Setelah tahu tujuan kami murni pelestarian, mereka akhirnya mau membuka pintu,” kenang Gunari.

Salah satu naskah paling unik yang pernah ia temukan adalah prasasti dari lempeng tembaga yang ditemukan di Situs Pangrumasan, Banjaranyar. 

Isinya silsilah keturunan dan penyebutan tokoh-tokoh Mataram. Seolah-olah dia sedang menggali masa lalu dari sisa-sisa yang masih bisa terbaca.

Dari sekian banyak koleksi, ada satu yang sangat istimewa bagi Gunari yaitu Kitab Rancang. 

Naskah ini menceritakan proses penciptaan bumi dan manusia, ditulis menggunakan aksara Arab Pegon. 

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved