Jumat, 1 Mei 2026

Rumah Naskah Nusantara Ciamis Menyelamatkan Warisan Leluhur dari Lembaran yang Lapuk

Di balik lembar-lembar kertas usang yang nyaris tak terbaca, tersembunyi jejak peradaban, petuah moral, dan kisah leluhur yang hampir punah oleh zaman

Tayang:
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/ai sani nuraini
DIGITALISASI - Ketua Yayasan Rumah Naskah Nusantara, Gunari Putra Erisman saat mempraktikan proses digitalisasi naskah kuno menggunakan kamera DSLR dan alat pendukung lainnya. 

“Naskah ini bukan sekadar tulisan, tapi refleksi spiritual dan pandangan kosmologis leluhur tentang kehidupan,” jelasnya.

Kitab tersebut disalin oleh Haji Saleh di Pesantren Cikelong, Kawali, pada sekitar tahun 1800-an. Dan itu baru salah satu dari puluhan naskah yang merekam pandangan hidup orang Sunda zaman dahulu.

Digitalisasi bukan pekerjaan asal potret, Gunari dan timnya menggunakan beberapa peralatan seperti kamera DSLR, lighting, penggaris, kuas untuk membersihkan naskah, sarung tangan, colour checker, meja, hingga tripod profesional. 

Dalam satu tim biasanya ada lima orang yang dilibatkan dalam proses digitalisasi naskah kuno dengan masing-masing tugasnya ada yang membersihkan naskah dari debu, ada yang memotret, memasang lighting agar gambar maksimal, hingga mengukur fisik naskah menggunakan penggaris.

Mereka membersihkan naskah dengan hati-hati, memotret halaman demi halaman sesuai standar pelestarian manuskrip. 

“Kalau rusak, bisa hilang selamanya. Tapi kalau kita digitalisasi dengan benar, kita selamatkan isinya untuk generasi mendatang,” katanya.

Dari 15 orang pengurus, hanya dua orang di Yayasan Rumah Naskah yang berlatar belakang mempelajari filologi. Selebihnya, anak-anak muda dari berbagai latar belakang. 

“Mereka bukan sarjana sastra atau sejarah. Tapi mereka punya kepedulian dan cinta terhadap budaya. Itu lebih penting,” kata Gunari.

Semangat mereka tak sekadar menyelamatkan naskah, tapi juga menyadarkan generasi muda bahwa sejarah tidak hanya ada di buku teks. 

“Naskah-naskah ini menyimpan nilai moral, filosofi hidup, dan arah bagi masa depan,” ujarnya.

Menariknya, selama melakukan pencarian naskah kuno dan digitalisasi, Gunari menggunakan uang pribadinya untuk membeli peralatan yang digunakan tanpa ada sokongan dana dari manapun.

Kendati demikian, ia bersyukur kini Yayasan Rumah Naskah Nusantara sudah mendapat dukungan dari Pemda melalui Disbudpora dan kegiatan Nyawang Bulan Kemarin bisa terlaksana atas dukungan dari Kementrian Kebudayaan.

Beberapa naskah bahkan ditulis di daun lontar, seperti salinan Sewaka Dharma dan Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang telah masuk daftar Memory of the World UNESCO.

“Bayangkan, dari daun lontar yang ditulis ratusan tahun lalu, kini tercatat di dunia internasional,” kata Gunari bangga.

Gunari berharap, suatu hari nanti, masyarakat Tatar Galuh tidak hanya mengenal naskah sebagai barang antik, tapi sebagai sumber ilmu dan inspirasi. 

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved