Jembatan Gantung di Surian Rusak
Imbas Jembatan Gantung Rusak, Warga Bobos Sumedang Berobat dan Sekolah ke Kecamatan Tetangga
Dampaknya tak hanya soal mobilitas, tetapi juga menyentuh layanan paling dasar seperti kesehatan dan pendidikan.
Penulis: Kiki Andriana | Editor: Dedy Herdiana
Ringkasan Berita:
Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Kiki Andriana
TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Kerusakan jembatan gantung yang melintang di atas Sungai Cikandung memutus akses warga Kampung Bobos RT 11/04, Desa Wanajaya, Kecamatan Surian.
Dampaknya tak hanya soal mobilitas, tetapi juga menyentuh layanan paling dasar seperti kesehatan dan pendidikan.
Sebanyak 25 kepala keluarga kini harus mengalihkan aktivitas harian mereka ke Kecamatan Buahdua, wilayah tetangga yang dinilai lebih mudah dijangkau dibanding pusat pemerintahan Desa Wanajaya.
Untuk mencapai kantor desa, sekolah, hingga fasilitas kesehatan di Wanajaya, Surian, warga terpaksa menyeberangi Sungai Cikandung secara langsung dengan risiko keselamatan yang tinggi. Tetapi ke kecamatan tetangga, hal itu tidak perlu sulit.
Kepala Desa Wanajaya, Erwan Riswanto, mengatakan kondisi tersebut bukan hal baru bagi warga Dusun Bobos. Bahkan, sebelum jembatan dibangun pada 2023 lalu, masyarakat sudah puluhan tahun hidup dengan keterisolasian.
“Sejak Indonesia merdeka, warga di sana belum pernah benar-benar menikmati akses jembatan. Kalau mau ke kantor desa, sekolah, atau berobat, ya harus menyeberang sungai. Sekarang jembatan rusak, kondisinya kembali seperti dulu,” kata Erwan, Rabu (21/1/2026).
Baca juga: Satu Kampung di Surian Sumedang Terisolasi Imbas Jembatan Gantung Rusak
Menurut Erwan, secara administratif Kampung Bobos memang masuk wilayah Kecamatan Surian. Namun secara geografis dan akses, Buahdua justru lebih dekat dan lebih aman dijangkau oleh warga.
“Untuk layanan kesehatan dan pendidikan, warga akhirnya memilih ke Buahdua. Itu lebih realistis bagi mereka. Kalau ke Surian, risikonya besar, apalagi saat debit sungai naik,” ujarnya.
Di Desa Wanajaya sendiri sebenarnya tersedia fasilitas pendidikan dan kesehatan, mulai dari SD, TK, hingga Poskesdes. Namun, keterbatasan akses membuat fasilitas tersebut sulit dimanfaatkan oleh warga Dusun Bobos.
“Sekolah ada, layanan kesehatan ada. Tapi aksesnya yang tidak ada. Akhirnya warga memilih menyekolahkan anak dan berobat ke kecamatan tetangga,” kata Erwan.
Kondisi ini juga memicu pergeseran penduduk. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah warga Kampung Bobos berkurang signifikan. Banyak warga usia produktif memilih pindah ke Desa Karangbungur, Kecamatan Buahdua.
“Sekarang tinggal 25 KK. Yang muda-muda sudah banyak pindah," katanya.
Jembatan gantung yang kini rusak sejatinya baru dibangun menjelang akhir 2023 melalui program Ekspedisi 1.000 Jembatan Gantung untuk Indonesia oleh komunitas Vertical Rescue Indonesia. Namun, struktur tanah yang labil di titik tumpuan menyebabkan jembatan tidak bertahan lama.
Akibat kerusakan tersebut, pelajar kembali harus menyeberangi sungai untuk berangkat sekolah, sementara warga sakit pun menghadapi risiko serupa saat mencari pertolongan medis. (*)
| Pemkab Sumedang Minta Maaf kepada Warga Kampung Bobos Surian, Janjikan Jembatan Permanen |
|
|---|
| Perbaikan Jembatan Gantung di Bobos Sumedang Sudah Dimulai, Kerja Sama TNI–Warga |
|
|---|
| Kades Nilai Pemkab Sumedang Abai, Perbaikan Jembatan Gantung Bobos Surian Justru Ditangani TNI |
|
|---|
| Satu Kampung di Surian Sumedang Terisolasi Imbas Jembatan Gantung Rusak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/JEMBATAN-GANTUNG-RUSAK-di-Kampung-Bobos-Sumedang-1.jpg)