Selasa, 28 April 2026

Rumah Ustaz Terisolasi

BREAKING NEWS! Ustaz Dadan dan Keluarga Terisolasi Proyek RS di Jatinangor, Lahan Belum Dibebaskan

Di titik ini, pagar seng tinggi membentang. Di balik pagar seng itulah, Ustaz Dadan dan keluarganya masih bertahan tinggal.

|
Penulis: Kiki Andriana | Editor: Dedy Herdiana
TribunJabar.id/Kiki Andriana
TERISOLASI - Ustaz Dadan (52) saat menunjukkan benteng tembok proyek pembangunan RS Mitra Plumbon, di Desa Mekargalih, Jatinangor, Sumedang kepada Tribun Jabar.id, Rabu (7/1/2026) sore. 
Ringkasan Berita:

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Kiki Andriana

TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Hidup di Kawasan Perkotaan Jatinangor (KPJ) bukan membuat Ustaz Dadan (52) dan keluarganya bahagia.

Sebaliknya, mereka empat orang sekeluarga sengsara karena rumahnya terisolasi proyek pembangunan rumah sakit.

RS Mitra Plumbon akan membangun rumah sakit di Dusun Dangdeur  RT01/12, Desa Mekargalih, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang

Akses yang mudah ke dunia di luar lingkungan rumah Ustaz Dadan, kini tinggal kenangan. Wilayahnya dikepung benteng kokoh berupa tembok dan sebagian sisi berupa pagar seng tinggi.

Supaya lebih mudah, lokasi ini jika diakses dari Jalan Raya Bandung–Garut, tepatnya berada di dekat Toko Buku Dappas, kawasan Dangdeur.

Di titik ini, pagar seng tinggi membentang. Di balik pagar seng itulah, Ustaz Dadan dan keluarganya masih bertahan tinggal.

Penutupan akses jalan akibat proyek pembangunan RS Mitra Plumbon membuat keluarga Ustaz Dadan terisolasi sejak sekitar sepekan terakhir.

Baca juga: DPRD Sumedang Soroti Peran Kecamatan dan Desa Pada Kejadian Longsor Mini Soccer

Menurut informasi yang dihimpun Tribunjabar.id, proyek tersebut diduga belum mengantongi izin lengkap, sementara lahan milik warga di sekitar lokasi juga belum seluruhnya dibebaskan, tepatnya lahan dan rumah miliknya. 

Ustaz Dadan mengungkapkan, saat ini ia tinggal bersama istri dan dua anaknya di kawasan yang dulu merupakan permukiman warga. Satu per satu tetangga telah pindah, bahkan bangunan masjid di sekitar lokasi sudah dirubuhkan.

“Ya saya di sini satu keluarga. Terisolasi sudah seminggu lalu. Lahan ini mau dibikin rumah sakit,” ujar Ustaz Dadan saat ditemui Tribun Jabar.id, di kediamannya, Rabu (7/102026) sore. 

Ia menyebut, satu-satunya akses keluar-masuk yang tersisa hanyalah jalan sempit di belakang rumah yang harus memutar ke area persawahan. Akses itu pun sulit dilalui, terlebih jika menggunakan sepeda motor.

“Satu sisi masih syukur ada jalan, meski harus mutar ke belakang, ke sawah. Kalau hujan, ya kotor-kotor, pakai motor muter-muter,” katanya.

Ustaz Dadan mengaku heran, rumah yang masih ia tempati belum dibebaskan, namun area di sekelilingnya sudah ditutup rapat oleh proyek. Akibatnya, keluarganya seolah terkurung di tengah kawasan pembangunan.

“Dulunya di sini banyak pemukiman, namanya juga kampung. Awalnya ada jalan, sekarang ditutup, dibenteng,” ucapnya.

Ia mengaku kondisi ini tidak hanya menyulitkan secara fisik, tetapi juga berdampak secara psikologis. Aktivitas anak-anaknya berkurang karena ruang bermain dan akses ke lingkungan sekitar semakin terbatas.

“Secara psikologis ya merasa terintimidasi. Anak-anak yang biasa main dengan teman-temannya sekarang jadi berkurang aktivitasnya,” tuturnya.

Ustaz Dadan berharap pihak rumah sakit dapat membuka ruang dialog dengan dia yang masih bertahan, terutama selama proses perizinan dan pembebasan lahan belum tuntas. Menurutnya, akses jalan seharusnya masih bisa dimanfaatkan sementara oleh warga.

“Walaupun ini nanti milik mereka, selama proses perizinan sampai pembangunan masih lama, kenapa tidak bisa digunakan sementara oleh warga? Minimal untuk akses ke masjid jadi dekat,” katanya.

Ia menegaskan tidak menolak pembangunan rumah sakit dan memahami niat baik pihak pengembang. Namun, ia berharap prosesnya dilakukan dengan cara yang lebih manusiawi.

“Kami terbuka, silakan bicara bagaimana baiknya. Rumah saya (untuk dibebaskan) masih negosiasi dan sampai sekarang belum ada kesepakatan,” ujarnya.

Ustaz Dadan menyebut, pihak rumah sakit sempat menyampaikan alasan penutupan akses sebagai bentuk pengamanan aset. Namun dalam praktiknya, hal itu justru membuat keluarganya terisolasi.

“Ini di perkotaan Jatinangor, tapi kalau terisolasi begini rasanya seperti terasing,” katanya lirih.

Ia berharap ada solusi terbaik yang bisa ditempuh bersama tanpa merugikan hak warga yang masih bertahan di lokasi tersebut.

“Saya tidak pernah mau mengganggu usaha orang lain. Tapi kami juga punya hak. Ayo bicara baik-baik,” katanya.

Hingga berita ini ditulis, pihak RS Mitra Plumbon belum memberikan keterangan, meski Tribun Jabar berulang kali menghubunginya. (*)

 

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved