Rabu, 13 Mei 2026

Pengabdian Tanpa Batas, Kisah Polairud dan Penjaga Laut Garut Selatan

Angin berhembus di pantai selatan tak sekencang biasanya, air laut sedikit tenang, pantai nampak sepi dan hanya segelintir orang yang bermain-main di

Tayang:
Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/sidqi al ghifari
PENGABDIAN TANPA BATAS - Satpolairud Polres Garut dibantu masyarakat melakukan patroli rutin di lepas pantai selatan Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (4/6/2025) 

TRIBUNPRIANGAN.COM, GARUT - Angin berhembus di pantai selatan tak sekencang biasanya, air laut sedikit tenang, pantai nampak sepi dan hanya segelintir orang yang bermain-main di dalamnya.

Sudah beberapa waktu cuaca cukup baik di wilayah selatan tepatnya di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Dengan angin sepoi-sepoi, langit pun menunjukkan biru megahnya, sayang tak banyak wisatawan yang menikmati indahnya lukisan Tuhan yang satu ini.

Kali ini bukan musim libur, orang-orang tengah sibuk dengan pekerjaannya, anak-anak juga tak merengek ingin berlibur lantaran sibuk pada pendidikannya.

"Situasi Pantai Santolo aman, Ndan! Aktivitas dermaga pagi ini terkendali" suara di ujung handitalky tiba-tiba memecah sepi, Rabu (18/6/2025) siang.

pertahankankepercayaaan
MEMPERTAHANKAN KEPERCAYAAN - Plt. Kasatpolairud Polres Garut Aef Saprudin (kanan) memimpin patroli harian di lepas pantai selatan Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (22/6/2025).

Sesaat kemudian Plt. Kepala Satuan Polisi Perairan dan Udara (Kasatpolairud) Polres Garut, Polda Jabar Iptu Aep Saprudin meresponsya. Menekan ujung ibu jari ke tombol perekam suara di HT nya.

"Laporan diterima, kembali ke markas," jawab Aep singkat.

Kondisi itu cukup menenangkannya, Iptu Aep bisa sedikit bernafas lega setelah beberapa pekan yang lalu kondisi gelombang laut tidak seramah hari ini.

Tepatnya pada Sabtu 24 Mei 2025, satu kapal nelayan 'Bintang Lima' dilaporkan dihantam gelombang tinggi, 10 anak buah kapal terlempar ke lautan lepas.

Proses evakuasi yang dipimpinnya secara langsung berjalan alot, beruntung satu persatu dari mereka selamat dengan bisa kembali ke daratan usai mendapatkan pertolongan cepat dari kerjasama antara Polairud dengan sejumlah nelayan.

"Setiap waktu kami berjuang, pantai selatan memang terkenal dengan gelombang ganasnya, kami disiapkan untuk bisa bertahan dari kondisi maut seperti itu," ucap Aep saat diwawancarai Tribun.

Ia menuturkan, saat ini Satpolairud yang dipimpinnya memiliki 7 anggota, mereka setiap waktunya bekerja memantau keamanan di hampir seluruh wilayah selatan.

Ketujuh anggotanya setiap hari melakukan pemantauan di empat pos yang tersebar di sepanjang bentangan garis pantai seluas 84 kilometer persegi dari mulai perbatasan Tasikmalaya hingga perbatasan Cianjur.

Pos 1 mencakup Pantai Rancabuaya, Puncak Guha, dan Cibalok; Pos 2 mencakup Pantai Santolo, Karangpapak, dan Manalusi; Pos 3 mencakup Pantai Sayang Heulang; dan Pos 4 mencakup Pantai Cijeruk serta Pantai Karangparanje.

"Rasanya dengan wilayah yang sangat luas ini, pemantauan memang tidak bisa seluruhnya dilakukan, tapi kami mendapat bantuan dari anggota TNI maupun polsek terdekat, sekaligus dibantu masyarakat relawan," ungkapnya.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved