Jumat, 17 April 2026

Mengenal Kerbau Marongge, Hewan Liar Tahan Banting yang Kini Jadi Ternak Peliharaan Jinak

Mengenal Kerbau Marongge, Hewan Liar Tahan Banting yang Kini Jadi Ternak Peliharaan Jinak

Penulis: Kiki Andriana | Editor: ferri amiril
istimewa
Mengenal Kerbau Marongge, Hewan Liar Tahan Banting yang Kini Jadi Ternak Peliharaan Jinak 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Kabupaten Sumedang, Kiki Andriana 

TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Mengenal kerbau Marongge, kerbau liar yang tahan banting dan kini jadi hewan ternak jinak yang banyak manfaatnya.

Pakar Peternakan dari Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Dr. Dudi tengah meneliti potensi Kerbau Marongge sebagai sumber daya genetik ternak yang unggul. 

Keunggulannya ada pada ketahanan kerbau pada kondisi alam paling ekstrem sekalipun. Daya tahan hidup kerbau lebih baik dibandingkan sapi. 

Kerbau Marongge sendiri merupakan kerbau yang hidup dan berpopulasi di Desa Marongge, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang. Di desa ini, masyarakat telah punya kesadaran kolektif untuk menjaga bibit unggul bibit marongge dengan memilahnya sejak kerbau anakan.

Dudi menjelaskan, kerbau berperan penting dalam pembangunan pertanian di Indonesia. Sawah bisa digarap dengan baik penggunaan tenaga mesin.

Penggunaan kerbau sebagai tenaga pengolah lahan pertanian merupakan suatu alternatif pembangunan pertanian ramah lingkungan dan menghemat anggaran pengeluaran bahan bakar minyak dan gas. 

"Begitu pula pada aspek lainnya, kerbau dapat berfungsi sebagai penghasil daging bagi upaya pemenuhan kebutuhan daging nasional,"

"Keberadaan kerbau sedemikian rupa telah menyatu dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat," kata Dudi kepada TribunPriangan.com, di Sumedang, Kamis (8/2/2024).  

Menurut Dudi, peran kerbau sebagai penghasil daging memiliki posisi yang penting, mengingat daging kerbau dapat menjadi komplemen bahkan substitusi daging sapi.  

Dari Kerbau Liar ke Kerbau Ternak

Kerbau termasuk dalam sub famili Bovinae, genus Bubalus. Dari beberapa spesies kerbau, hanya spesies Bubalus arnee yang dapat menjadi jinak, sedangkan kerbau liar yang masih dijumpai adalah anoa, kerbau Mindoro, Bubalus cafeer dan kerbau merah.  

Dudi mengatakan, sebagaimana dalam literatur yang dia temukan, domestikasi kerbau diduga sejak 7.000 tahun yang lalu dan perannya sangat menunjang kehidupan manusia.

Penyebaran kerbau di dunia cukup merata dikarenakan memiliki daya adaptasi yang baik pada berbagai kondisi agroklimat yang ada. 

Kerbau mempunyai keistimewaan tersendiri dibandingkan sapi, karena ternak ini mampu hidup di kawasan yang relatif ‘sulit’ terutama bila pakan yang tersedia berkualitas rendah.
 
Dalam kondisi kualitas pakan yang tersedia relatif kurang baik, setidaknya pertumbuhan kerbau dapat menyamai atau justru  lebih baik dibandingkan sapi, dan masih dapat berkembangbiak dengan baik. 
 

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved