Selasa, 19 Mei 2026

Bagaimana Prospek Jangka Panjang Saham BRIS? Begini Analis Pasar Modal

Bank berkode saham BRIS itu diperkirakan bullish dalam jangka pendek, dan cocok untuk dikoleksi secara jangka panjang.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Gelar Aldi Sugiara
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Ilustrasi saham 

Laporan Wartawan TribunJabar, Nappisah

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) diproyeksikan cerah oleh sejumlah analis pasar modal.

Bank berkode saham BRIS itu diperkirakan bullish dalam jangka pendek, dan cocok untuk dikoleksi secara jangka panjang.

Sebagai catatan, sepanjang pekan lalu kinerja saham BRIS menguat 5,92 persen menjadi Rp1.610.

Baca juga: Komitmen Kembangkan UMKM, BSI akan Salurkan KUR Lebih dari Rp1 Triliun di Jawa Barat pada 2023

Bila dibandingkan dalam tiga bulan terakhir, saham BRIS ditutup menguat sekitar 32,51 persen pada perdagangan Jumat (24/3/2023).

Founder of Kurikulum Saham Alex Sukandar mengatakan, secara umum Index Saham Syariah Indonesia (ISSI) mengalami uptrend dalam sebulan terakhir dengan support pada level 199,5 dan resistance level 224.

“Ini menandakan bahwa kinerja saham-saham syariah mampu menahan tekanan pasar global yang kurang baik," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Selasa (28/3/2023).

Baca juga: BSI Berikan Edukasi dan Pelatihan untuk UMKM Supaya Naik Kelas

Menurutnya, hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh persentase hutang saham-saham syariah sangat terbatas sekali, sehingga tidak terlalu berdampak pada kenaikan suku bunga.

Alex menilai, di antara saham emiten bank syariah, BRIS memang menjadi yang paling menarik dicermati.

Hal itu tak terlepas dari laporan kinerja perusahaan yang melaju signifikan sepanjang 2022.

Baca juga: Berkolaborasi dengan Kementerian PUPR, BSI Siap Dukung Proyek Strategis Nasional

Sepanjang tahun lalu, BSI melaporkan penyaluran pembiayaan senilai Rp208 triliun, naik 21 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Capaian ini kemudian mendorong aset perusahaan tumbuh 15 persen yoy menjadi Rp306 triliun.

Kinerja positif tersebut mampu dijaga pada awal 2023. Hingga akhir Februari 2023, BRIS mencatat pertumbuhan pembiayaan sebesar 21,36 persen yoy.

Baca juga: Digitalisasi Segmen Retail, BSI Luncurkan 2 Fitur Baru Pembiayaan via BSI Mobile

Alex menuturkan, secara analisa teknikal menggunakan periode waktu weekly chart, terlihat adanya perubahan struktur pasar BRIS yang berpotensi mengganti tren dari bearish menjadi bullish.

Hal ini diperkuat pula dengan adanya aliran dana sebesar Rp315 miliar sepanjang dua bulan terakhir pada saham BRIS.

“Level support krusial berada di Rp1.095, sementara itu level resistance terdekat di Rp1.670,” katanya.

Baca juga: Fitur Lifestyle akan Tersedia di BSI Mobile, Tampilkan Layanan Entertainment

Sebagai informasi, saham BRIS sempat terkoreksi ke level Rp1.200 pada akhir 2022.

Padahal saham emiten bank syariah ini berada pada harga Rp1.700 per 3 Januari 2022. Saham BRIS tercatat mulai menguat kembali pada medio Februari 2023.

Sejak awal Februari hingga 24 Maret 2023, harga saham bergerak pada rentang Rp1.350–Rp1.715.

Baca juga: KABAR GEMBIRA, BSI Beri Bantuan Beasiswa Pendidikan S1 Senilai Rp 6 Juta, Simak Begini Syaratnya

Dihubungi secara terpisah, Head of Research Team II Mirae Asset Handiman Soetoyo menilai saham BRIS prospektif untuk dikoleksi dalam jangka panjang.

Pasalnya, menurut dia kinerja bank akan tumbuh secara berkelanjutan.

Bahkan Handiman memperkirakan pada tahun ini, BSI akan kembali mencetak pertumbuhan pembiayaan hingga dua digit.

Baca juga: Dorong Islamic Ecosystem, Peserta Talenta Wirausaha BSI 2023 Diperluas Hingga Pesantren

“Perkiraan tumbuh double digit sekitar 10 sampai 15 persen,” katanya.

Handiman pun menganalisa bahwa pada tahun ini saham BRIS akan menguat.

"Hal tersebut seiring dengan kabar PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. yang akan melepas kepemilikan saham BRIS secara perlahan," imbuhnya.

Baca juga: Bos BSI Beberkan Ide Usaha Sederhana Modal Kecil yang Tetap Cuan Meski Terjadi Resesi

Hal ini mengacu pada pernyataan Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo belum lama ini.

Langkah BNI dan BRI tersebut sudah mulai terlihat dalam rights issue BSI terakhir pada Desember 2022.

BNI hanya mengambil separuh haknya, sedangkan BRI tidak mengambil haknya.

Baca juga: Kuota Haji Indonesia 2023 Bertambah, BSI Siap Tingkatkan Layanan Prima Bagi Nasabah Calon Jamaah

Kepemilikan saham BRI di BSI pun turun dari 17,25 persen menjadi 15,38 persen dan BNI menyusut dari 24,85 persen menjadi 23,24 persen.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., selaku pemegang saham pengendali melaksanakan seluruh haknya. Dengan demikian kepemilikan Bank Mandiri di BSI naik dari 50,83 persen menjadi 51,47 persen. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved