Minggu, 3 Mei 2026

Toko Borondong Pak Ara Tetap Eksis Jualan Borondong Sejak 1952

Toko Borondong Pak Ara berdiri sejak 1952, menjual borondong dan makanan khas Kabupaten Bandung lainnya.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Gelar Aldi Sugiara
TribunPriangan.com/Nappisah
Rivaldi Rais, Pengelola Toko Borondong Pak Ara, saat menunjukkan borondong di tokonya, Senin (24/10/2022). 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com, Nappisah.

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Borondong, kuliner khas Kabupaten Bandung ini masih tetap eksis hingga sekarang meski gempuran makanan luar negeri yang menjamur.

Toko Borondong Pak Ara, misalnya. Bediri sejak tahun 1952, toko tersebut selain menjual Borondong, tapi juga menawarkan makanan Khas Kabupaten Bandung lainnya, seperti teng-teng, borondong garing yang lainnya ada opak, kolontong, ranginang, balendrong, rangining, parered.

Bisnis keluarga yang dijalankan secara turun-temurun ini sudah memasuki generasi keempat.

Rivaldi Rais (20) merupakan pengelola Toko Borondong Pak Ara.

"Jangan sampai keturunan kita tidak tahu makanan khas daerahnya sendiri," kata Rivaldi ketika ditemui di lokasi, Senin (24/10/2022).

Baca juga: Ternyata Inilah Sosok Bek Persib Bandung yang Dianggap Pembelian Terbaik Musim Ini

Baca juga: Jelang KTT OKI di Bandung, Ini Rekayasa Lalu Lintas yang Akan Diterapkan Polisi

Mahasiswa Universitas Pasundan jurusan Manajemen angkatan 2020 ini bergantian dengan keluarganya dalam menjaga toko.

"Kalau saya kuliah, Ibu yang mengelola (toko) atau dibantu sodara," ujarnya.

Perjuangan Rivaldi dan keluarga dalam mempertahankan makanan khas Borondong ini terbilang sulit-sulit mudah.

Terlebih kesulitan ini djumpai kala pandemi Covid-19. Rivaldi mengatakan, pendapatan tokonya mulai menurun, paling besar dapat Rp100 ribu pada 2020 lalu.

"Saat pandemi terjadi toko sepi sampai pernah tidak ada pemasukan sama sekali," ungkap Rivaldi.

Padahal sebelum pandemi Covid-19 melanda, omzet yang didapat toko borondong Pak Ara dapat mencapai Rp400 ribu sampai Rp1 juta setiap harinya.

Baca juga: Imbas Kasus Peredaran 102 Obat yang Dilarang Dikonsumsi, Pemkot Bandung Lakukan Hal Ini

Permintaan borondong pun meningkat pada bulan puasa untuk dijadikan oleh-oleh saat pulang kampung.

"Keadaan mulai kembali normal sebelum lebaran 2021,"ucapnya.

Rivaldi berharap, makanan khas daerah ini tidak terlupakan di masyarakat dan tetap eksis hingga generasi berikutnya.

"Jangan karena pemasukan dari penjualan borondong sedikit jadi dibiarkan, tapi nilai dari makanan daerah turun temurun dari keluarga yang harus dilestarikan, sayang jika padam tersaingi makanan luar, pugkasnya.

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved