Minggu, 12 April 2026

Buah Manggis dari Cipancar Sumedang yang Kini Bisa Tahan Lebih Lama Berkat Lilin Lebah

Semangat para petani manggis di Sumedang tidak surut. Antusiasme mereka tetap "on" meski sedang berpuasa

Penulis: Kiki Andriana | Editor: ferri amiril
TribunPriangan.com/Kiki Andriana
LILIN LEBAH - Kisah Manggis dari Cipancar Sumedang yang Kini Bisa Tahan Lebih Lama Berkat Semprotan Lilin Lebah 

Ringkasan Berita:* Bagaimana tidak antusias, pelatihan yang akan mereka terima akan berpengaruh pada proses ketahanan buah manggis setelah dipanen. Ya, di Dusun Sagaramanik, Desa Cipancar, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang ini ada puluhan petani manggis dengan lahan tanam cukup luas

 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Sumedang Kiki Andriana


TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Semangat para petani manggis di Sumedang tidak surut. Antusiasme mereka tetap "on" meski sedang berpuasa. 

Bagaimana tidak antusias, pelatihan yang akan mereka terima akan berpengaruh pada proses ketahanan buah manggis setelah dipanen. Ya, di Dusun Sagaramanik, Desa Cipancar, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang ini ada puluhan petani manggis dengan lahan tanam cukup luas.

Luasnya lahan tanam ini boleh diukur dengan kemampuan mereka memenuhi kuota ekspor, meski hasil panen dikepul terlebih dahulu di perusahaan eksportir di Tasikmalaya. 

Di ruangan Madrasah Al-Qadar, Selasa (10/3/2026) siang, mereka menghadapi manggis yang telah dipanen. Semprotan genggam berisi cairan bening hasil campuran lilin lebah dan beberapa bahan lainnya telah siap di tangan. 

Satu per satu, manggis itu disemprot perlahan. Lapisan tipis cairan itu menempel di kulit buah ungu tua. Para petani memperhatikan dengan saksama, seolah sedang mempelajari cara baru menjaga hasil panen yang selama ini cepat rusak.

Baca juga: Umur TPSA Cibeureum Sumedang Diperkirakan 20 Tahun Lagi

Sekitar 30 hingga 35 petani manggis mengikuti pelatihan bertajuk “Pelatihan Penerapan Edible Coating Berbasis Beeswax pada Buah Manggis”. Lapisan ini tentunya ramah dan tidak mengapa jika termakan.  

Kegiatan ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Chulalongkorn University Thailand. Program tersebut dijalankan di bawah Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat ITB sebagai upaya menerapkan hasil riset kampus langsung kepada masyarakat.

Guru Besar Fakultas Teknologi Industri ITB, Prof. Dr. Ir. Lienda Aliwarga, M.Eng., menjelaskan bagaimana lapisan tipis dari lilin lebah dapat membantu memperpanjang umur simpan buah.

“Kami melakukan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Cipancar untuk petani manggis, untuk pelapisan manggis agar umur simpan manggis diperpanjang. Sebagai akademisi, ilmu yang ada di kampus harus bisa diterapkan kepada masyarakat,” ujarnya di sela-sela kegiatan. 

Larutan yang digunakan berasal dari lilin lebah yang dilelehkan lalu dicampur dengan beberapa bahan hingga menjadi cairan yang dapat melapisi buah. Lapisan itu sangat tipis, namun mampu melindungi kulit manggis dari proses pembusukan terlalu cepat.

Menurut Lienda, metode pelapisan sebenarnya bisa dilakukan dengan beberapa cara, mulai dari penyemprotan, penyelupan, hingga dioleskan dengan tangan. Namun dalam pelatihan ini, metode penyemprotan dipilih karena dianggap paling merata dan praktis bagi petani.

“Dengan penyemprotan, lapisannya lebih merata,” katanya.

Selama ini, manggis yang dipanen petani biasanya hanya mampu bertahan sekitar dua minggu sebelum kulitnya mengeras dan kualitasnya menurun. Dengan teknik edible coating tersebut, umur simpan buah bisa mendekati empat minggu.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved