Hajat Laut Pangandaran 2026 Ditiadakan, Tak Ada Jumat Kliwon di Bulan Muharram
Tradisi Hajat Laut yang selama ini menjadi agenda budaya masyarakat nelayan di Kabupaten Pangandaran dipastikan tidak akan digelar pada 2026
Penulis: Padna | Editor: ferri amiril
Ringkasan Berita:* Tradisi Hajat Laut yang selama ini menjadi agenda budaya masyarakat nelayan di Kabupaten Pangandaran dipastikan tidak akan digelar pada 2026
Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Tradisi Hajat Laut yang selama ini menjadi agenda budaya masyarakat nelayan di Kabupaten Pangandaran dipastikan tidak akan digelar pada 2026.
Keputusan tersebut diambil para tokoh adat dan budayawan karena sepanjang bulan Muharram 1448 Hijriah tidak terdapat hari yang bertepatan dengan Jumat Kliwon.
Menurut para sesepuh dan tokoh budaya setempat, pelaksanaan Hajat Laut memiliki pakem yang mengharuskan ritual digelar pada bulan Muharram dan bertepatan dengan Jumat Kliwon.
Jika ketentuan itu tidak terpenuhi, prosesi dianggap kehilangan nilai kesakralannya.
Wakil Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran, Yana Budiana, mengatakan keputusan untuk meniadakan Hajat Laut sudah disepakati bersama oleh para tokoh adat dan pelaku budaya.
Baca juga: Air Mancur Ikon Pantai Timur Pangandaran Kumuh Tak Terawat
"Ini soal pakem. Hajat Laut bukan sekadar keramaian, tapi merupakan laku spiritual. Kalau tidak Jumat Kliwon, maka tidak bisa disebut sakral," ujar Yana kepada sejumlah wartawan di rumahnya di Pangandaran, Selasa (2/6/2026) sore.
Tentu, absennya Jumat Kliwon pada bulan Sura atau Muharram merupakan fenomena yang jarang terjadi. Berdasarkan perhitungan kalender Jawa, kondisi itu disebut hanya terjadi dalam rentang waktu sekitar 30 tahun sekali.
Hajat Laut merupakan tradisi tahunan masyarakat nelayan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang diperoleh.
Tradisi ini sudah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir selatan Pangandaran.
Berdasarkan cerita yang berkembang di kalangan masyarakat pesisir, tradisi tersebut berawal dari kisah seorang nelayan yang lama tidak memperoleh hasil tangkapan saat melaut.
Setelah terus berdoa memohon kemudahan rezeki kepada Tuhan, nelayan tersebut pulang dan mendapati perahunya berisi ikan dalam jumlah melimpah pada hari Jumat Kliwon.
Sebagai ungkapan syukur, nelayan tersebut kemudian melarung sebagian hasil bumi dan kepala kerbau ke laut. Tradisi itu selanjutnya diwariskan dan menjadi bagian dari ritual Hajat Laut yang dikenal hingga sekarang.
"Itulah awal cerita Hajat Laut. Ini bukan pemujaan kepada Nyi Roro Kidul, tapi bentuk tasyakur bin nikmat kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan," ucapnya.
| Diky Candra: Kunjungan Sesmenkop Adalah Angin Segar Untuk Progres Cagar Budaya Tugu Koperasi |
|
|---|
| Air Mancur Ikon Pantai Timur Pangandaran Kumuh Tak Terawat |
|
|---|
| Hajat Laut 2026, HNSI Pangandaran Siapkan Hadiah Lomba Capai Rp 150 Juta |
|
|---|
| Kunjungan Wisata Libur Idul Adha 2026 di Jabar Naik, Pangandaran Urutan Dua |
|
|---|
| Hari Lahir Pancasila di Pangandaran, Jeje Wiradinata Pimpin Pasukan Merah dalam Upacara Peringatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/padnapadnahajatlautlautlaut.jpg)