Minggu, 10 Mei 2026

Cerita Pria Asal Pangandaran yang Terjebak Bekerja di Bisnis Scam Negara Kamboja

Janji pekerjaan dengan gaji tinggi membawa Agus Hidayat (37), warga Dusun Ciawitali, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang

Tayang:
Penulis: Padna | Editor: ferri amiril
TribunPriangan.com/istimewa
KORBAN - Cerita Agus Hidayat (37), warga Dusun Ciawitali, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, ke dalam lingkaran gelap praktik penipuan daring di Kamboja 

Ringkasan Berita:* Janji pekerjaan dengan gaji tinggi membawa Agus Hidayat (37), warga Dusun Ciawitali, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, ke dalam lingkaran gelap praktik penipuan daring di Kamboja

 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna


TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Janji pekerjaan dengan gaji tinggi membawa Agus Hidayat (37), warga Dusun Ciawitali, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, ke dalam lingkaran gelap praktik penipuan daring di Kamboja.

Alih-alih mendapatkan pekerjaan layak sebagai marketing e-commerce, Agus justru terjebak dalam jaringan scam yang penuh tekanan, kekerasan, dan ancaman pengalaman yang nyaris memupus harapannya untuk pulang ke tanah air.

Kisah pahit itu bermula saat Agus bekerja sebagai buruh bangunan di Jakarta. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, ia tergiur tawaran seorang teman yang menjanjikan pekerjaan sebagai marketing dengan gaji hingga Rp 16 juta per bulan.

"Awalnya saya kerja sebagai kuli bangunan. Ada teman ngajakin kerja, katanya jadi marketing, gajinya besar. Saya tergiur," ujar Agus melalui WhatsApp, Selasa (14/4/2026) siang.

Tanpa banyak curiga, Agus mengikuti seluruh proses pemberangkatan yang diurus oleh pihak yang mengaku sebagai agen. 

Baca juga: Jadwal Keberangkatan Jemaah Haji 2026 Asal Pangandaran, Catat Segera Tanggalnya!

Dalam waktu singkat, paspor selesai dibuat, dan ia diberangkatkan ke Dumai, lalu melanjutkan perjalanan ke Malaysia sebelum akhirnya tiba di Kamboja.

Namun, setibanya di lokasi, kecurigaan mulai muncul. Kontrak kerja yang dijanjikan tak pernah ditandatangani. Ia hanya menjalani tes mengetik dan pelatihan singkat, sebelum akhirnya menyadari pekerjaan sebenarnya.

"Di sana saya baru tahu pekerjaannya scam, penipuan berkedok cinta di media sosial," katanya.

Dalam praktik itu, Agus dan pekerja lainnya diminta membuat akun palsu perempuan di berbagai platform seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. 

Mereka menargetkan korban berusia di atas 40 tahun, membangun hubungan emosional, lalu mengarahkan korban ke platform belanja daring dengan iming-iming komisi.

Modus ini berujung pada jebakan finansial. Korban diminta menyelesaikan sejumlah tugas dengan nominal uang yang terus meningkat, hingga akhirnya dana mereka terkunci dan sulit ditarik kembali.

"Awalnya kecil, Rp500 ribu. Lama-lama sampai Rp10 juta, lalu dikunci. Karena sayang uangnya, korban terus lanjut," ucap Agus.

Selama bekerja, Agus hidup di bawah pengawasan ketat dan tidak bebas keluar dari lokasi. Ancaman denda hingga 5.000 dolar menghantui setiap upaya melarikan diri. 

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved