Rabu, 10 Juni 2026

Rupiah Melemah Tekan Operasional Bus, Organda Ciamis Sebut Kenaikan Tarif Bisa Terjadi

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan terhadap industri transportasi darat. 

Tayang:
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: Dedy Herdiana
TribunPriangan.com/Ai Sani Nuraini
RUPIAH MELEMAH - Potret saat Bus Gapuraning Rahayu Ciamis, yang sedang terparkir di area pool, Ketua Organda Kabupaten Ciamis sekaligus Manajer PO Bus Gapuraning Rahayu, Ekky Bratakusumah, mengatakan dampak pelemahan rupiah memang belum diikuti dengan usulan kenaikan tarif angkutan di Ciamis. 

Ringkasan Berita:
  • Rupiah melemah memicu lonjakan biaya suku cadang, oli, dan ban angkutan umum di Ciamis.
  • Tarif bus PO Gapuraning Rahayu belum naik meski okupansi penumpang saat ini masih minim.
  • Organda Ciamis desak pemerintah tertibkan angkutan ilegal karena merugikan bus resmi.

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan terhadap industri transportasi darat. 

Kenaikan harga berbagai kebutuhan operasional, mulai dari suku cadang, oli hingga ban, membuat pelaku usaha angkutan umum menghadapi beban biaya yang semakin besar.

Ketua Organda Kabupaten Ciamis sekaligus Manajer PO Bus Gapuraning Rahayu, Ekky Bratakusumah, mengatakan dampak pelemahan rupiah memang belum diikuti dengan usulan kenaikan tarif angkutan. 

Namun, kondisi tersebut berpotensi memicu penyesuaian tarif apabila biaya operasional terus meningkat.

"Untuk sementara ini belum ada usulan kenaikan tarif. Namun dampaknya terhadap biaya operasional pasti ada dan cukup signifikan, terutama untuk spare part, oli, dan ban," ujar Ekky, Selasa (9/6/2026).

Baca juga: Dolar AS Tembus Rp18.185, Bupati Pangandaran Soroti Dampak pada Harga Kebutuhan Pokok

Menurutnya, banyak komponen kendaraan yang harganya ikut terdongkrak ketika nilai tukar rupiah melemah. 

Akibatnya, perusahaan transportasi harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjaga armada tetap beroperasi.

Ekky mengatakan kemungkinan kenaikan tarif tetap terbuka apabila kondisi ekonomi dan biaya operasional terus mengalami tekanan.

"Saya rasa ke depan bisa saja ada perubahan tarif. Namun saat ini belum ada pembahasan ataupun usulan resmi terkait kenaikan tarif," katanya.

Meski demikian, ia menilai kenaikan tarif bukan solusi mudah di tengah kondisi jumlah penumpang yang belum sepenuhnya pulih. 

Bahkan dengan tarif yang berlaku saat ini, sejumlah trayek masih menghadapi minimnya okupansi penumpang.

"Dengan tarif sekarang di Bus Gapuraning Rahayu jurusan Karangpucung-Jakarta yang masih Rp150 ribu saja penumpangnya minim. Apalagi kalau tarif naik, tentu tantangannya akan semakin besar," ujarnya.

Selain persoalan biaya operasional, Ekky juga menyoroti maraknya transportasi ilegal yang dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan usaha angkutan umum resmi.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved