Jumat, 24 April 2026

Tanah Bergerak Ancam Warga Bantar

Detik-detik Pergerakan Tanah di Bantarcaringin Ciamis, Lantai Menyembul Dini Hari

Kerusakan terparah dialami rumah tetangga karena berada tepat di area perbatasan kontur tanah yang bergerak, namun rumah itu tidak ditempati

|
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: Dedy Herdiana
TribunPriangan.com/Ai Sani Nuraini
PERGERAKAN TANAH - Rinrin (20) saat menunjukkan kondisi dapur rumahnya yang mengalami kerusakan parah akibat bencana pergerakan tanah di Dusun Bantarcaringin, RT 24/12, Desa Ciharalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Selasa (25/11/2025). 
Ringkasan Berita:
  • Pergerakan tanah terjadi di Dusun Bantarcaringin, Desa Ciharalang, Kecamatan Cijeungjing, Ciamis pada Senin 24 November 2025.
  • Sejumlah rumah mengalami kerusakan parah dan yang lainnya terancam terdampak.
  • Sejumlah warga ungkap kejadian yang dirasakan hingga soal bantuan dan harapan kepada pemerintah.

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Pergerakan tanah kembali terjadi di Dusun Bantarcaringin, RT 24/12, Desa Ciharalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis pada Senin (24/11/2025) dini hari.

Sedikitnya tiga rumah warga mengalami kerusakan cukup parah, sementara delapan rumah lainnya terancam. 

Rinrin (20) salah satu warga terdampak, menjelaskan bahwa awal kerusakan diketahui saat ibunya bangun dini hari sekitar pukul 01.30 WIB dan menuju dapur.

Ia terkejut melihat ubin lantai sudah menyembul atau terangkat meski belum retak. 

“Saat dibangunkan jam dua pagi itu saya kaget, karena biasanya baru bangun sekitar waktu subuh,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (25/11/2025).

Baca juga: BREAKING NEWS! Pergerakan Tanah di Bantarcaringin Makin Parah, 3 Rumah Rusak dan Warga Mengungsi

Menurut Rinrin, kondisi semakin memburuk pada siang hingga sore hari. 

Bagian yang paling parah terdampak adalah dapur yang kini bangunannya miring cukup signifikan, termasuk kamar orang tua dan WC. 

“WC ikut tertarik karena di bawah musala ada kolam. Sekarang dapur sudah miring sekali,” katanya.

Seluruh barang dari kamar telah dievakuasi ke tengah rumah dan garasi. 

Ia dan ibunya memilih mengungsi sementara ke rumah tetangga yang kosong. 

“Sudah tiga kali kejadian di rumah saya, tapi ini yang paling parah,” ungkapnya.

Selain rumah Rinrin, rumah bibi dan rumah tetangganya juga mengalami kerusakan.

Menurutnya, kerusakan terparah dialami rumah tetangga karena berada tepat di area perbatasan kontur tanah yang bergerak, namun rumah itu tidak ditempati.


Lia Yuliantin (28), warga lainnya yang juga merupakan bibi dari Rinrin turut merasakan dampak dari pergerakan tanah

Ia menyadari adanya retakan sejak sekitar pukul 01.30 dini hari. 

“Yang rusak itu bagian pintu belakang, tembok, dan WC. Bangunan belakang rumah sampai miring,” jelasnya.

Lia mengaku merasa takut, cemas, dan sedih melihat kondisi rumahnya saat ini.

Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, ia memilih bermalam di rumah tetangga.

“Kalau hujan enggak berani tidur di rumah. Kalau enggak hujan mungkin masih bisa tidur di ruang depan,” tuturnya.

Terlebih lagi, Rinrin biasanya tinggal seorang diri karena suaminya bekerja di Tangerang, namun karena peristiwa pergerakan tanah itu suaminya baru pulang tadi pagi.

Terkait kemungkinan relokasi, Lia mengaku akan mempertimbangkan pindah ke kampung halamannya di Kecamatan Panawangan jika memang harus meninggalkan rumah. 

“Tapi kalau diperbaiki juga takut kejadian lagi, karena sebelumnya pernah terjadi meski tidak separah sekarang,” ucapnya.

Hingga saat ini, warga terdampak telah menerima bantuan logistik dari BPBD dan Dinas Sosial hingga dari pihak desa dan kecamatan.

Namun, belum ada konfirmasi lanjutan mengenai kajian geologi atau bantuan bahan bangunan untuk perbaikan rumah.

“Harapannya segera ada kepastian dari pihak terkait. Supaya kami bisa merencanakan apakah rumah perlu direnovasi atau bagaimana,” kata Rinrin.

Warga berharap pemerintah segera melakukan kajian struktur tanah dan memberikan solusi terbaik, mengingat potensi bencana susulan masih mungkin terjadi terlebih memasuki musim hujan.(*)

 

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved