Sabtu, 25 April 2026

Desa Jalatrang Tekan Pengeluaran Warga Rp72 Juta per Bulan Lewat Program Ketahanan Pangan

Kepala Desa Jalatrang, Dadi Haryadi, mengungkapkan, program ini berawal dari hasil survei kebutuhan dasar masyarakat

Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: Dedy Herdiana
Tribunpriangan.com/Ai Sani Nuraini
TEKAN PENGELUARAN WARGA - Para anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Berlian sedang melakukan penyemaian benih cabai rawit di Kampung Bungur, Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Senin (13/10/2025). Upaya penanaman tiga jenis bumbu dapur utama ini mampu menekan pengeluaran belanja seluruh warga desa sebesar Rp75 juta per bulan. 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Program ketahanan pangan di Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, kini mulai menunjukkan hasil nyata.

Melalui tangan-tangan terampil para anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Berlian sebagai induknya, masyarakat berhasil memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tiga jenis bumbu dapur utama yakni bawang merah, cabai rawit, dan tomat yang selama ini menjadi kebutuhan pokok sehari-hari.

Kepala Desa Jalatrang, Dadi Haryadi, mengungkapkan, program ini berawal dari hasil survei kebutuhan dasar masyarakat yang menunjukkan bahwa dari 1.000 rumah, uang senilai Rp72 juta per bulan keluar dari desa hanya untuk membeli tiga komoditas bumbu dapur tersebut.

“Dari situ kami berpikir, bagaimana supaya masyarakat tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli bawang merah, cabai rawit, dan tomat. Maka lahirlah program ketahanan pangan berbasis pekarangan rumah,” ujar Dadi saat diwawancarai di Kampung Bungur Jalatrang, Senin (13/10/2025).

Baca juga: Pamarican Scout Challenge 2025, Wadah Tempa Kepemimpinan dan Karakter Generasi Muda Ciamis

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Desa melalui program ketahanan pangan dari Dana Desa membagikan 20 polybag kepada setiap rumah tangga penerima untuk ditanami bawang merah, cabai rawit, dan tomat.

Dari 2.100 rumah di Desa Jalatrang, sebanyak 1.000 rumah sudah diintervensi dalam tahap awal program ini.

Kini, Desa Jalatrang mulai dikenal sebagai desa yang berhasil menggerakkan ketahanan pangan melalui pemberdayaan masyarakat, terutama peran aktif perempuan.

“Yang terpenting bukan hanya panen, tapi tumbuhnya kesadaran dan kebersamaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sendiri,” tutur Dadi Haryadi.

Program yang mulai berjalan sejak tahun 2023 ini kini mulai menunjukkan hasil menggembirakan. 

Sebagian warga sudah memanen hasil tanamnya, bahkan menanam kembali untuk kebutuhan selanjutnya.

“Sekarang sudah banyak warga yang bisa langsung memenuhi kebutuhan dapurnya dari halaman rumah sendiri. Belum kita bicara ke arah bisnis, tapi minimal sudah bisa menekan pengeluaran rumah tangga,” kata Dadi.

Menurutnya, manfaat terbesar dari program ini bukan hanya hasil panen, tetapi perubahan pola pikir masyarakat dari konsumtif menjadi produktif.

“Kita butuh waktu untuk mengubah mindset masyarakat. Tapi sekarang warga sudah punya kesadaran memanfaatkan pekarangan, dan itu luar biasa,” imbuhnya.

Dadi menambahkan, panen dilakukan secara mandiri oleh masing-masing keluarga tanpa panen raya bersama. 

Sebagian hasil dikonsumsi sendiri, sebagian lagi ditanam kembali untuk menjaga kesinambungan kebutuhan.

Dengan semangat gotong royong dan kemandirian, Desa Jalatrang kini menjadi salah satu contoh penerapan program ketahanan pangan yang efektif dan berkelanjutan di tingkat desa.

“Mudah-mudahan langkah kecil ini bisa terus berjalan dan menjadi inspirasi bagi desa lain. Karena ketahanan pangan itu dimulai dari rumah,” pungkas Dadi.

Selain itu, Pemerintah Desa juga menggandeng KWT Berlian sebagai mitra penyedia bibit dan pelaksana teknis di lapangan.

Ketua KWT Berlian, Aam Amirah, menjelaskan bahwa pihaknya dipercaya desa untuk menyiapkan dan menyemai ribuan polybag berisi bibit bawang merah, cabai rawit, dan tomat yang kemudian disalurkan ke 1.000 rumah tangga.

"Kami yang menyemai dan mendistribusikan bibitnya ke masyarakat,” jelas Aam.

Menurutnya, keberhasilan program ini tak lepas dari dukungan Sekolah Lapang Pertanian yang juga dibiayai dari Dana Desa.

Melalui sekolah lapang, warga mendapatkan bimbingan langsung dari penyuluh pertanian mulai dari cara menyemai, menanam, mengolah lahan, pemupukan, hingga proses panen.

“Ilmunya diberikan lengkap, jadi warga tidak hanya menanam, tapi juga memahami cara merawat tanaman dengan benar,” tambahnya.

"Alhamdulillah banyak yang berhasil. Ada yang panen bawang merah sampai 1 ons. Untuk tomat, rata-rata sudah cukup untuk kebutuhan dapur sehari-hari,” ungkap Aam.

Selain menekan pengeluaran rumah tangga, program ini juga mengubah kebiasaan masyarakat dari konsumtif menjadi produktif. 

Banyak warga kini terbiasa memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam sayuran atau tanaman obat keluarga.

“Selain dari bantuan desa, warga sudah mulai terbiasa menanam di lingkungan rumahnya masing-masing. Bahkan ada yang hasilnya dijual langsung ke pasar atau ke pengunjung yang datang dan bisa petik sendiri,” kata Aam.(*)

 

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved