Breaking News
Kamis, 9 April 2026

Bupati Herdiat Ajak Petani Ciamis Beralih ke Pertanian Organik

Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, mendorong para petani untuk mulai beralih ke sistem pertanian organik secara bertahap

Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: ferri amiril
TribunPriangan.com/istimewa
TANAM PADI ORGANIK - Momen saat Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya menghadiri kegiatan Gerakan Tanam Padi Organik Tingkat Kabupaten Ciamis 2026 di Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican, Kamis (9/4/2026), Ia mendorong para petani untuk mulai beralih ke sistem pertanian organik secara bertahap. 

Ringkasan Berita:* Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, mendorong para petani untuk mulai beralih ke sistem pertanian organik secara bertahap

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, mendorong para petani untuk mulai beralih ke sistem pertanian organik secara bertahap.

Hal itu disampaikan saat membuka kegiatan Gerakan Tanam Padi Organik Tingkat Kabupaten Ciamis 2026 di Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican, Kamis (9/4/2026).

Menurut Herdiat, kondisi tanah di sejumlah wilayah Ciamis saat ini sudah mulai terkontaminasi bahan kimia akibat penggunaan pupuk non-organik dalam jangka panjang.

“Tanah kita sudah banyak tercampur bahan kimia, sehingga hasil pertanian pun ikut terkontaminasi. Maka kita mulai sedikit demi sedikit beralih ke organik, semata-mata untuk kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan, peralihan ke pertanian organik tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus bertahap dengan mencontoh keberhasilan kelompok tani yang sudah lebih dulu menerapkannya.

Baca juga: Tiga Desa di Ciamis Dicanangkan Jadi Desa Cantik 2026

Salah satunya Kelompok Tani Parikesit yang menjadi lokasi kegiatan. Kelompok ini bahkan berhasil meraih juara 2 pada ajang Bank Indonesia Award 2025 untuk sektor tanaman pangan.

Selain faktor kesehatan, Herdiat juga menyoroti sisi ekonomi dari pertanian organik

Ia menyebut biaya pupuk organik lebih murah, sementara hasil panen bisa mencapai 8 hingga 9 ton per hektare.

Tak hanya itu, harga jual beras organik juga dinilai lebih tinggi dengan pasar yang luas, termasuk peluang ekspor ke sejumlah negara.

“Permintaan tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri seperti Jepang, Malaysia, dan Singapura,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Ciamis, lanjut Herdiat, akan memberikan dukungan dalam proses peralihan tersebut, baik melalui bantuan bibit maupun pupuk.

Ia juga meminta pemerintah desa memanfaatkan tanah bengkok sebagai lahan percontohan pertanian organik agar petani lain bisa melihat langsung hasilnya.

Di sisi lain, Herdiat mengingatkan petani untuk mewaspadai potensi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada pertengahan tahun.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved