Jumat, 15 Mei 2026

Naskah Khutbah Jumat

Teks Khutbah Jumat 15 Agustus 2025: Islam Agama Cinta Damai Keselamatan Sesama dan Berkembang

Naskah Khutbah Jumat 15 Agustus 2025/ 21 Safar 1446 H: Islam, Agama Cinta Damai, Keselamatan Sesama, dan Berkembang

Tayang:
Penulis: Lulu Aulia Lisaholith | Editor: ferri amiril
TribunRamadhan.com
NASKAH KHUTBAH JUMAT - Naskah Khutbah Jumat 15 Agustus 2025/ 21 Safar 1446 H: Islam, Agama Cinta Damai, Keselamatan Sesama, dan Berkembang. (Foto: Umat muslim menjalankan Salat Tarawih di Masjid Raya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (12/4/2021) malam). (Dok: Tribun Timur/Sanovra Jr/TribunRamadhan.com) 

TRIBUNPRIANGAN.COM - Berikut ini terdapat Naskah Khutbah Jumat 15 Agustus 2025/ 21 Safar 1446 H, berjudul Islam, Agama yang Cinta Damai, Keselamatan Sesama, dan Berkemabang.

Hari Jumat merupakan Sayyidul Ayyam atau Penghulunya Hari bagi umat muslim diseantero dunia, yang diyakini sebagai hari penuh keberkahan.

Pasalnya dalam hari tersebut pun setiap muslim yang balig diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat, yang menjadi salah satu penanda perayaan hari raya kecil atau hari raya mingguan bagi umat muslim.

Adapun beberapa syarat berlaku dalam pelaksanaan salat Jumat, di antaranya adalah melangsungkan Khutbah sebagai rukun dalam salat Jumat.

Dalam bekhutbah sang khotib menerangkan perihal ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Baca juga: 5 Contoh Naskah Singkat Khutbah Jumat, Bertemakan Kemerdekaan Republik Indonesia HUT ke-80

Terdapat berbagai macam tema dalam menyampaikan Khutbah Jumat, tapi kali ini Tribun Priangan akan mengulas Tentang satu tema yang berjudul Islam, Agama yang Cinta Damai, Keselamatan Sesama, dan Berkemabang.

Sebab, dalam ajarannya Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kedamaian dan keselamatan sesama. 

Hal itu tercermin dalam setiap ajarannya. Mulai dari bermuamalah dengan Allah atau hablun minallah, hingga bermuamalah dengan sesama atau hablun minannas.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ وَالْاِحْسَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَايَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ، اَلْكَرِيْمِ الَّذِيْ تَأَذَّنَ بِالْمَزِيْدِ لِذَوِي الشُّكْرَانِ. أَحْمَدُهُ حُمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحُسْبَانِ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ

أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَنْ سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوِجْدَانِ، عَالِمُ الظَّاهِرِ وَمَا انْطَوَى عَلَيْهِ الْجَنَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 15 Agustus 2025: Menikmati Kemerdekaan dengan Tawadhu dan Berserah kepada Allah

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Ungkapan syukur Alhamdulillahirabbil alamin menjadi keharusan bagi kita atas karunia nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita semua dalam kehidupan ini. Selain diungkapkan, syukur juga harus dikuatkan dalam hati dan diwujudkan dalam tindakan. Tindakan yang mencerminkan syukur adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Inilah yang disebut dengan takwa.

Takwa menjadi bagian yang sangat penting dalam menjalani arah kehidupan. Dengan takwa perjalanan kehidupan kita akan memiliki rambu-rambu yang mampu mengarahkan kepada jalan Allah sehingga kita bisa hidup dengan selamat di dunia. Oleh karenanya, mari kita terus kuatkan takwa kita kepada Allah swt di manapun dan kapan pun kita berada.

Jamaah yang dirahmati Allah Subahanan Wataa'Alaa..

Untuk lebih meningkatkan rasa syukur, mari kita tengok saudara-saudara kita yang ada di Palestina. Bagaimana keadaan mereka sekarang. Mereka berharap sekali ketenangan dan kedamaian seperti kita. Namun kenyataannya, mereka hidup dalam darurat perang, keadaan serba terbatas, belum lagi dihantui rasa ketakutan yang tiada henti menghadapi serbuan bangsa penjajah setiap saat. Walhasil, hidup mereka betul-betul tiada ketenangan selain memasrahkan diri kepada Dzat yang Maha Mencipta. Kapan pun Dia mengambil nyawa mereka, mereka siap lillahi ta’ala.  

Sebaliknya kita yang ada di Indonesia. Keadaan serba leluasa. Tenang dan tenteram. Mulai beraktivitas hingga menjalankan ibadah. Masa iya, keadaan ini tidak kita syukuri dengan aneka ragam ibadah dan menghamba kepada Yang Kuasa. Sungguh keterlaluan, di saat warga Palestina menyempatkan diri beribadah bagaimana pun caranya, meski dalam keadaan darurat, sementara kita berleha-leha padahal keadaan aman dan leluasa.  

Nikmat mana lagi yang hendak engkau dustakan? 

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Namun, mudah-mudahan, kemelut yang dialami saudara-saudara kita di Palestina segera berakhir. Allah senantiasa memberi keselamatan, kesabaran, dan juga kemenangan kepada mereka. Allah secepatnya menurunkan kedamaian dan keselamatan kepada mereka. Sebab, tiada yang mereka dambakan saat ini kecuali kedamaian, ketentraman, dan hidup tenteram seperti bangsa-bangsa di belahan dunia lainnya. Semoga pertolongan Allah segera datang bagi mereka. Sebab, jika pertolongan Allah datang, perang yang selama ini lebih didominasi pihak Zionis, akan berbalik arah kepada pihak pejuang Palestina. Allah swt berfirman: 

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا  

Artinya: “Bukan engkau yang melempar ketika melempar (senjata), tapi Allah yang melempar. Sesungguhnya Allah memberi ujian kepada orang-orang yang beriman berupa ujian yang baik.” (QS. Al-Anfal [8]: 17).  

Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 15 Agustus 2025: Kemerdekaan dan Nasionalisme dalam Bingkai Agama

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah  

Perlu kita ketahui, selain bermakna ‘pasrah’ dan ‘berserah’, Islam juga bermakna ‘damai’, ‘selamet’, ‘aman’, dan ‘tenteram’. Yang semua itu mengacu kepada keadaan yang sangat didambakan oleh setiap insan. Bukan saja oleh umat Islam, tetapi juga oleh seluruh umat manusia di mana pun berada, termasuk seluruh makhluk dan tumbuhan.  

Selanjutnya, secara konsep, Islam merupakan agama yang mengajarkan monoteisme tauhid yang harus diwujudkan dalam bentuk kepasrahan diri dan ketaatan kepada Allah semata dan rasul-Nya selaku utusan yang membawa rahmat ke seluruh alam untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.   

Namun, kebahagiaan itu tidak akan terwujud tanpa kedamaian dan ketenteraman serta kasih sayang di antara sesama. Intinya, melalui misi kedamaian serta kasih sayang, risalah Islam diturunkan ke seluruh alam. 

Selama ini, damai masih dimaknai sebagai hidup rukun berdampingan antara dua pihak atau dua kekuatan yang berseteru. Padahal, nyatanya tidak demikian. Dalam Islam, jiwa dan individu umat diciptakan untuk damai dan tenteram, yang keduanya merupakan kebutuhan dasar. Mari kita lihat setiap gerak-gerik kita, termasuk dalam beribadah, kita diperintah untuk selalu tertib, tenang, tuma'ninah, dan khusyu’. Tidak boleh terburu-buru, selain memang sikap tergesa-gesa itu berasal dari setan.  

Baca juga: Teks Khutbah Jumat 15 Agustus 2025: Bersyukur Kemerdekaan Berhubungan dengan Perjuangan Palestina

Dalam muamalah dengan Allah atau yang disebut dengan hablun minallah, misalnya, kita diperintah dzikir kepada Allah, yang salah satu tujuannya menciptakan jiwa yang damai dan tenang, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran surah ar-Ra’du ayat 28. Kemudian, ketika menunaikan shalat, kita diwajibkan sambil tuma'ninah dalam melaksanakannya alias tenang tidak terburu-buru. Di akhir shalat, kita juga diperintah untuk mengucap salam yang maknanya tak lain adalah kedamaian dan keselamatan.   

Usai shalat, kita dianjurkan untuk berdoa, di antara doa yang biasa kita baca adalah doa selamat dan doa keselamatan, Allahumma antas salam wa minkas salam…. 

Dan masih banyak lagi tradisi lainnya yang tidak bisa dilepaskan dari semangat kedamaian serta keselamatan. Bahkan, di akhirat kelak, yang akan dipanggil oleh Allah masuk surga tak lain adalah hamba Allah yang jiwa-jiwanya penuh dengan ketenangan dan kedamaian, sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Fajri ayat 27 sampai ayat 30.   

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً 

Artinya: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya,” QS. Al-Fajr [89]: 27-30).  

Sidang Jumat yang dirahmati Allah  

Begitu pula dalam muamalah dengan sesama manusia atau yang biasa disebut dengan hablun minannas. Islam sudah mengajarkan kita semua untuk menebar salam atau ucapan assalamu alaikum saat bertemu orang lain di samping kita harus menjunjung semangat toleransi, sehingga tercipta kehidupan yang rukun, baik sesama seagama maupun sesama umat beragama. Berbicara ajaran, tentu rujukannya adalah Al-Quran dan sunah Rasulullah saw. 

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 15 Agustus 2025: Sikap Muslim dalam Memaknai Nikmat Kemerdekaan yang Bebas

Dalam Al-Quran, kata salam dan kata turunannya, disebutkan tidak kurang dari 120 kali, yang salah satunya mengacu kepada asma Allah, as-Salam yang artinya Dzat yang maha memberi keselamatan dan kedamaian. Ini menunjukkan, Allah adalah sumber kedamaian dan keselamatan, yang mewajibkan para hamba-Nya meraih keduanya. Walhasil, berdasar keimanan dan kasih sayang, Islam sangat menekankan pentingnya kasih sayang antarsesama, bahkan sesama makhluk, agar tercipta kedamaian dan keselamatan dunia dan akhirat.  Begitu pula dalam sunah Rasulullah saw. Banyak sekali hadits yang mengajarkan hidup damai dan memperhatikan keselamatan sesama. Rasulullah bersabda:    

 المُسْلِمُ مَن سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِن لِسانِهِ ويَدِهِ  

Artinya: “Orang muslim itu adalah orang yang muslim-muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya,” (HR. al-Bukhari).  Oleh karena itu, semoga kita semua bisa memahami dan juga menjalankan ajaran damai yang sudah diajarkan oleh agama kita. Sehingga kita benar-benar memegang ajaran tersebut secara kaffah, sebagaimana pesan ayat, “Masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaffah,” (QS. Al-Baqarah [2]: 208).   

Mudah-mudahan di akhirat kelak, kita termasuk hamba yang mendapat kebahagiaan dan keselamatan serta mewarisi Darussalam negeri surga yang penuh dengan kedamaian, ketentraman, selama-lamanya. Amin ya rabbal alamin.  

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ 

Baca juga: Teks Bahasa Sunda Khutbah Jumat 15 Agustus 2025: Kemerdekaan dan Kebebasan Adalah Ajaran Rasulullah

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ   أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ    اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ   عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْن

(*)

Baca artikel TribunPriangan.com lainnya di Google News

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved