Rabu, 15 April 2026

Nelayan Pencari Lobster Hilang

Hari Keempat Pencarian Dua Nelayan, Ayah dan Anak Hilang di Perairan Pangandaran, Tim SAR Dibagi Dua

Kedua korban diketahui merupakan ayah dan anak, masing-masing bernama Yadi Atma (54) dan Yogi Mustofa (20) dilaporkan hilang saat mencari lobster

|
Penulis: Padna | Editor: Dedy Herdiana
Dok. Tim SAR
PENCARIAN NELAYAN HILANG - Suasana saat tim SAR gabungan mendekati lokasi TKP dua nelayan yang mengalami laka laut, Selasa 1 Juli 2025 siang. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Memasuki hari keempat, tim SAR gabungan di Kabupaten Pangandaran, masih terus melakukan pencarian terhadap dua orang nelayan yang hilang akibat kecelakaan laut. 

Kedua korban diketahui merupakan ayah dan anak, masing-masing bernama Yadi Atma (54) dan Yogi Mustofa (20) sebelumnya dilaporkan hilang saat mencari udang karang ( lobster) di perairan sekitar kawasan Cagar Alam Pangandaran.

Koordinator Pos SAR Pangandaran, Edwin, mengatakan, upaya pencarian dua nelayan korban laka laut dibagi menjadi dua tim. 

"Tim pertama melakukan penyisiran darat di wilayah Cagar Alam, sementara tim kedua melakukan pencarian di laut," ujar Edwin dihubungi Tribun Jabar, Selasa (1/7/2025) siang.

Baca juga: BREAKING NEWS! Dua Nelayan Pencari Lobster di Pangandaran Hilang Dihantam Ombak

Dalam pencarian di laut, tim menggunakan perahu jukung milik SAR Barakuda dan nelayan, serta jet ski milik Basarnas. Selain itu, penyelam dari Pangandaran dive club juga turut membantu pencarian bawah air.

Namun, saat penyisiran di laut tim SAR menghadapi kendala besar dalam proses penyelaman."Karena, visibilitas nol, air sangat keruh. Ini menyulitkan tim penyelam untuk melakukan pencarian secara optimal," katanya.

Karena kondisi itu, tim penyelam dibantu petugas Balawista melakukan pencarian menggunakan metode surfing di sekitar lokasi kejadian.

Baca juga: Pencarian Dua Nelayan yang Hilang di Pangandaran Terkendala Cuaca Buruk

Selain air yang keruh, lokasi kejadian juga memiliki medan yang sulit dijangkau karena banyak batu karang dan kondisi gelombang sangat tinggi.

"Jadi, perahu jukung tidak bisa mendekat ke lokasi karena gelombang tinggi dan banyaknya batu karang. Arus laut juga cukup kuat," ucap Edwin.

Jika perahu dipaksakan masuk ke area pinggiran batu karang lokasi TKP, tentu akan berisiko membahayakan keselamatan tim. "Kalau dipaksakan, kita malah ikut celaka," ujarnya.

Baca juga: Keluarga Nelayan yang Hilang Angkat Kedua Tangan Panjatkan Doa di Bibir Pantai Pangandaran

 

 

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved