Rabu, 13 Mei 2026

Ledakan Amunisi di Garut Makan Korban

Warga Ungkap Pemusnahan Amunisi Kedaluwarsa Ternyata Sudah Dilakukan Dua Kali

Heri menyebut durasi amunisi ketika usai diledakan cukup lama sebelum diambil serpihannya oleh warga sekitar.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jaenal Abidin | Editor: Dedy Herdiana
Tribunpriangan.com/Jaenal Abidin
DIJAGA PETUGAS GABUNGAN - Sejumlah petugas TNI yang merupakan satu di antara para petugas gabungan melakukan penjagaan di pinggir jalan utama Cikaengan-Pameungpeuk, Kabupaten Garut, di kawasan jalan masuk ke kawasan pemusnahan amunisi tidak layak pakai, Senin sore (12/5/2026). 

Laporan wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin 

TRIBUNPRIANGAN.COM, GARUT - Kegiatan pemusnahan amunisi tidak layak pakai atau kedaluwarsa di Garut Selatan yang menewaskan 13 orang ternyata sudah dilaksanakan sebanyak dua kali, hal ini dikatakan warga asal Kampung Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Senin (12/5/2025).

Menurut Heri Supriyadi (47) warga Mancagahar, Kecamatan Pameungpeuk menjelaskan bahwa saat kejadian dirinya memang sedang diluar saat peristiwa yang menewaskan 13 orang.

Namun Heri menuturkan kejadian tersebut sudah pernah dilaksanakan pada Minggu pertama bulan Mei, dan ini kegiatan yang kedua kalinya.

"Ini ledakan yang kedua kalinya, pertama kegiatan tanggal 6 Mei, dan dimulai lagi tanggal 12 Me. Jadi kegiatan ini seminggu sekali di laksanakan," ungkap Heri ketika ditemui wartawan TribunPriangan.com, di lokasi kejadian, Senin (12/5/2025) sore.

Baca juga: Pascatragedi Ledakan yang Tewaskan 13 Orang, Lokasi Pemusnahan Amunisi Kedaluwarsa Dijaga Petugas

Heri pun menjelaskan, dua kali dilaksanakan tapi yang fatal hingga menyebabkan korban jiwa hari ini. 

"Dari dulu sampai sekarang memang disini lokasinya, kemarin juga tim ledakan pas penyambutan saya ada, kebetulan ada rekan tim peledak juga dari warga sipil cuma sudah dipercaya sama TNI," jelasnya.

Soal ditanyai ada warga yang jadi korban, masih kata Heri membenarkan kerap ada warga mencari serpihan amunisi ketika usai di ledakan.

"Betul, jadi warga ambil serpihan itu dan sama warga itu serpihannya dijual dan itu pun juga dihimbau dulu sebelum diambil," tuturnya.

Alasannya karena usai peledakan kondisi tanah masih panas dan harus didinginkan terlebih dahulu hingga beberapa jam.

"Kan tanah panas, kalau sudah ledakan didiamkan dulu beberapa jam. Kalau yang nurut sama himbauan petugas ada, mungkin ada juga warga yang nakal, ga dengerin himbauan petugas," kata Heri.

Heri menyebut durasi amunisi ketika usai diledakan cukup lama sebelum diambil serpihannya oleh warga sekitar.

"3 sampai 4 jam durasinya, kalau yang sudah mengikuti arahan petugas pasti dibolehkan mengambil serpihan amunisi tersebut," pungkasnya.

Untuk bahan amunisi tersebut kata Heri berbahan kuningan, besi, terus ada semacam aluminium dengan memiliki nilai jual cukup tinggi.

"Kalau dijual harganya lumayan, tapi kalau besi perkilonya dihargai sekitar Rp 5 sampai 6 ribu perkilonya. Untuk Kuningan dan aluminium lebih tinggi harganya," katanya.

Selain itu, untuk jarak lokasi peledakan dengan petugas pun cukup jauh karena memiliki daya ledak sangat tinggi dengan kedalaman 3 sampai 4 meter.

"Kalau kedalaman lubang tergantung banyaknya amunisi yang di ledakan, dan jaraknya lumayan jauh dengan lubang sama petugas kurang lebih 500 meter," ucap Heri. (*)

 

 

 

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved