Selasa, 21 April 2026

Perjalanan Elin Perajin Batik Dahon di Pangandaran, Omset Per Bulannya Kini Mencapai Puluhan Juta

Batik dahon yang diproses dengan teknik eco print itu bisa laku terjual ke sejumlah daerah di Indonesia hingga ke luar negeri.

Penulis: Padna | Editor: Dedy Herdiana
Tribunpriangan.com/Padna
BATIK DAHON - Seorang karyawan Elin di Desa Margacinta Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran sedang memperlihatkan batik dahon, Rabu (30/4/2025). 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Cerita Elin Herlina (52) seorang perajin batik dahon di Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat yang kini penjualannya makin meluas.

Batik dahon yang diproses dengan teknik eco print itu bisa laku terjual ke sejumlah daerah di Indonesia hingga ke luar negeri.

Menggeluti kerajinan batik dahon, awalnya Elin melihat pameran pakaian di Yogyakarta, beberapa tahun lalu.

"Awalnya saya lihat pameran di Yogyakarta. Waktu itu, saya lihat batik eco print yang terlihat unik," ujar Elin kepada sejumlah wartawan di lokasi kerajinan batik dahon, di samping rumahnya, di Margacinta, Rabu (30/4/2025) siang.

Baca juga: Angka Kemiskinan Penerima BPNT di Pangandaran Capai 35.217 Jiwa, Bupati Citra Pitriyami Cari Solusi

Setelah itu, Ia langsung berpikir bahwa di Kabupaten Pangandaran kaya akan tanaman dan bisa digunakan untuk eco print.

"Dari situ awal saya belajar eco print. Itu pada tahun 2018," katanya.

Tanaman yang dipakai untuk eco print itu relatif cukup banyak. Karena di Pangandaran banyak tanaman yang menciptakan desain dan pola bagus pada kain.

"Ada daun jati, daun suren, dan banyak lagi tanaman yang bisa dimanfaatkan," ucap Elin.

Selain kain dan dedaunan dari tanaman, untuk proses pembuatan batik dahon memang diperlukan bahan baku pewarna. 

"Kebetulan, kita punya pewarna unggulan dari buah dahon. Pohon dahon itu tumbuh di bantaran sungai yang ada di sini. Nah, itu bisa kita jadikan sebagai pewarna," ujarnya.

Sementara untuk pasar, Ia mengaku sudah kerjasama dengan travel dan guide yang biasa membawa wisatawan ke Pangandaran.

"Mereka yang beli banyak dari luar negeri seperti, Amerika, Belanda, dan Prancis. Kemarin juga ada dari Korea datang ke sini," katanya.

Untuk pemasaran, Elin hanya bisa menjual ke wisatawan lokal dan asing. Karena untuk ekspor, Elin terkendala dengan tenaga kerja. 

Menurut Elin, batik dahon miliknya memiliki keunikan daripada produk lainnya. Satu di antaranya tidak bisa memproduksi banyak dan setiap produk tidak ada pola yang sama.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved