Sabtu, 11 April 2026

Banjir di Jawa Barat

Banjir Mencekam di Dayeuhkolot Bandung, Warga Berjuang Selama Ramadhan

Bangunan-bangunan yang biasanya menjadi tempat perlindungan kini hanya bisa terdiam direndam air.

Editor: Dedy Herdiana
Tribunjabar.idAdi Ramadhan Pratama
BANJIR DAYEUHKOLOT - Situasi RT 7/RW 13, Kampung Sukabirus, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung terendam banjir pada Sabtu (8/3/2025). 

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Adi Ramadhan Pratama

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG – Suasana bulan Ramadhan di RT 7/RW 13, Kampung Sukabirus, Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung berubah mencekam akibat debit air Sungai Cigede dan Cikapundung yang tidak terkendali.

RT 7 yang biasanya merupakan dataran, kini berubah menjadi layaknya "danau berwarna coklat" yang tampak sejauh mata memandang. 

Bangunan-bangunan yang biasanya menjadi tempat perlindungan kini hanya bisa terdiam direndam air. Beberapa bangunan bahkan roboh, meninggalkan hanya material-material kecil yang tersisa.

Ketua RT 7/RW 13, Atep Usman, menceritakan bahwa kejadian mengerikan tersebut terjadi ketika adzan magrib akan segera dikumandangkan pada Jumat, 7 Maret 2025.

"Air mulai naik sekitar sore hari, sebelum waktu berbuka puasa, sekitar pukul 17.30 atau 18.00," ujarnya kepada Tribun Jabar pada Sabtu (8/3/2025).

Baca juga: Jadwal Buka Puasa 8 Maret 2025 di Kota Bandung, Cimahi dan Sekitarnya, Disertai Doa Berbuka

Matahari yang mulai terbenam ditambah hujan yang terus mengguyur, menambah suasana mencekam di wilayah tersebut. Gemuruh air dari dua sungai tersebut menjadi momok menakutkan bagi warga.

Air dari Sungai Cigede dan Cikapundung terus meluap dan memasuki pemukiman seperti keran bocor yang tidak bisa dihentikan. Dengan tinggi sekitar 160 cm, air tersebut merusak apa saja yang dilewatinya.

"Ketinggian air kemarin sedada orang dewasa. Airnya seperti ombak, deras sekali. Jadi luapan air masuk ke pemukiman. Bahkan, satu rumah dan musola kami jebol, hancur, hampir ambruk," katanya.

Atep dan keluarganya hanya bisa bertahan di rumah sambil mengangkat barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Meskipun sudah seharian berpuasa, nafsu makan seketika itu pun menghilang di benaknya.

Atep mengaku bahwa dirinya tidak lagi memikirkan menu makanan. Yang terpenting baginya adalah keselamatan keluarga dan warga sekitar.

"Tapi Alhamdulillah, masih ada warga yang saling bantu, mereka berbagi. Rumah yang memiliki lantai dua rela jadi tempat pengungsian," ucapnya.

Tak hanya sampai waktu berbuka puasa, suasana mencekam akibat banjir tersebut pun berlanjut hingga waktu sahur. Dengan menu seadanya, hal yang terpintas waktu itu hanya mengisi perut dengan cepat.

"Kondisi waktu sahur masih sama, tapi ada penurunan sedikit (banjirnya). Sahur apa adanya saja, mie dan telur pun bisa, yang penting ada tenaga untuk puasa," ujarnya.

Bagi Atep, suasana mencekam seperti ini selalu terjadi di RT-nya, apalagi jika hujan mengguyur daerah Kota Bandung. Meskipun di daerahnya tidak hujan, air kiriman tetap datang ke RT-nya.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved