Senin, 4 Mei 2026

UMKM

Kisah Rashid Besarkan Warung Kopi Barisila di Garut, Usung Kembali Kejayaan A Cup of Java Preanger

Waktu tidak pernah bisa membohongi hasil, anak yang bernama Barisila Kopi itu kini mulai tumbuh menjadi lini usaha yang perlahan maju penuh kepastian.

Tayang:
Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Dedy Herdiana
TribunPriangan.com/Sidqi Al Ghifari
Rashid Satari (39) seorang coffee roaster asal Garut, Ia merupakan  warga  Perumahan Intan Regency, Desa Tarogong, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat. 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Garut, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNPRIANGAN.COM, GARUT - Rashid Satari (40) masih tidak menyangka pekerjaannya sebagai coffee roaster yang sudah ia tekuni sejak satu dekade ini akhirnya membuahkan hasil.

10 tahun yang lalu itu seperti baru kemarin, seperti baru kemarin juga ia melewati hutan belantara soal rumitnya bermain di dunia kopi.

Waktu tidak pernah bisa membohongi hasil, anak yang bernama Barisila Kopi itu kini mulai tumbuh menjadi lini usaha yang perlahan maju penuh kepastian.

Rashid merupakan warga Perumahan Intan Regency, Desa Tarogong, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Sejak tahun 2014 ia berani meninggalkan pekerjaannya sebagai juru cetak di sebuah percetakan ternama di Bandung. Pulang ke Garut lalu memilih bergelut di dunia bisnis kopi.

Menikmati Biji Kopi asli Pegunungan Garut di Warung Barisila, Papandayan Full Wash Paling Diburu
Menikmati Biji Kopi asli Pegunungan Garut di Warung Barisila, Papandayan Full Wash Paling Diburu (tribunpriangan.com/sidqi al ghifari)

Baca juga: Menikmati Biji Kopi asli Pegunungan Garut di Warung Barisila, Papandayan Full Wash Paling Diburu

Trend kopi di Garut pada tahun-tahun itu ungkap Rashid memang sedang naik daun, setiap orang mulai memperkenalkan kopi unggulan khas pegunungan di Garut itu, termasuk dirinya.

"Sebelum nama Barisila hadir, dulu nama brand kopinya adalah Halimun, kopi pertama yang saya olah dari wilayah Halimun, Pamulihan Garut," ujarnya kepada Tribunjabar.id, Jumat (30/8/2024).

Ia menuturkan, langkah pertamanya untuk memutuskan berbisnis kopi tidak begitu berjalan dengan mulus, lantaran dirinya masih awam di dunia itu.

Bahkan pada awalnya ia juga tidak mampu membedakan jenis-jenis kopi, seperti menelusuri hutan belantara perlahan tapi pasti ia akhirnya mampu menemukan jalan setapak demi setapak.

"Dulu gelap sekali, tidak jelas bahkan tidak mampu mengenali ini kopi robusta atau arabika, minim literasi tapi ya gabres saja," ungkapnya.

Rashid mengenang pertama kali mengolah kopi menggunakan cara manual, yakni disangrai menggunakan katel.

Permintaan konsumen pun saat itu dimulai, perlahan-lahan kopi olahannya itu ia tawarkan kepada sejumlah orang dengan cara yang menurutnya cukup sederhana.

"Saya masih ingat, wadahnya saat itu pakai kantong plastik, saya bawa ke Bandung sebagai tester. Dari situ mulai sedikit demi sedikit ada permintaan," kenangnya.

Setelah mantap dengan niat bisnisnya itu, Rashid akhirnya berani berhenti dari pekerjaannya di percetakan. Ia fokus membesarkan usahanya.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved