Jumat, 17 April 2026

Cerita Kampung Naga Bagian 1

Warga Kampung Naga Tasikmalaya Bersikukuh Tolak Listrik, Tapi Punya HP

Warga Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, bersikukuh menolak masuknya aliran listrik ke kampung mereka.

Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/machmud mubarak
Suasana rumah rumah di Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya 

Karena pemerintah sendiri pernah menawarkan listrik gratis bagi masyarakat Kampung Naga, namun tetap ditolak.

“Kami tidak ingin kehadiran listrik ini menimbulkan iri dengki dan kesenjangan. Yang kaya bisa membeli peralatan elektronik, televisi besar, kulkas besar, sementara yang miskin hanya bisa melihat,” kata Kang Ijad yang juga pemandu wisata saat berbincang dengan TribunPriangan.com, Jumat (14/10/2022).

Ijad menerangkan, untuk penerangan di malam hari, warga Kampung Naga menggunakan lampu tempel, lampu teplok, lampu badai atau petromaks.

Minyak tanah sebagai bahan bakar lampu teplok itu, kata Ijad, masih bisa diperoleh, karena ada pasokan dari pemerintah.

“Waktu minyak tanah dihilangkan, kami sempat kerepotan juga. Namun kami meminta kepada pemerintah untuk menyediakan khusus bagi Kampung Naga. Alhamdulillah, ada subsidi minyak tanah khusus untuk Kampung Naga,” kata Kang Ijad.

Menurut Kang Ijad, masyakarat Kampung Naga akan lebih mementingkan "Gaya Hidup" dibandingkan dengan "Hidup Gaya.

"Gaya Hidup" adalah bagaimana cara masyarakat Kampung Naga menjalani kehidupan mereka yang harus serasi dengan alam. Alam menjadi unsur penting dalam kehidupan masyarakat Kampung Naga. Apapun yang mereka lakukan haruslah selaras dengan alam; dari alam, untuk alam, kembali ke alam,” tutur Kang Ijad.

Ijad percaya bahwa sejatinya alam tidak akan pernah mencelakai manusia.

Yang ada adalah manusia yang serakah terhadap alam sehingga alam murka terhadapnya.

Sementara "Hidup Gaya" adalah prinsip hidup agar terlihat "gaya" atau keren di mata orang lain.

Menurut Kang Ijad, hal tersebut tidak akan membawa ketenangan dalam hidup mereka. Bukan tidak mungkin kesenjangan pun muncul di antara masyarakat Kampung Naga.

Ketika orang mulai berlomba-lomba menunjukkan siapa yang memiliki peralatan paling canggih. Hal itu sangat dihindari oleh masyarakat Kampung Naga.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved