Jumat, 10 April 2026

Cerita Kampung Naga Bagian 1

Warga Kampung Naga Tasikmalaya Bersikukuh Tolak Listrik, Tapi Punya HP

Warga Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, bersikukuh menolak masuknya aliran listrik ke kampung mereka.

Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/machmud mubarak
Suasana rumah rumah di Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Rheina Sukmawati

TRIBUNPRIANGAN.COM, KABUPATEN TASIKMALAYA – Warga Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, bersikukuh menolak masuknya aliran listrik ke kampung mereka.

Di sisi lain, mereka tak kuasa menolak kehadiran perangkat komunikasi. Handphone atau HP yang memerlukan listrik untuk mengisi daya baterainya menjadi barang elektronik yang leluasa hilir mudik di dalam kampung adat.

Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat tradisional di wilayah Tatar Sunda yang masyarakatnya masih memegang pola hidup Sunda Buhun.

Bagi orang Naga, hidup selaras dengan alam adalah sebuah keniscayaan. Termasuk menjaga amanat kesetiaan pada adat tradisi leluhur atau karuhun.

Lokasi kampung ini tak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Garut dan  Tasikmalaya. Dari arah Garut Kota, bisa ditempuh sekira 45 menit.

Letaknya  di sebuah lembah yang subur di tepi Sungai Ci Wulan. Sungai ini berhulu di Gunung Ci Kuray Garut dan bermuara di Cipatujah, Tasikmalaya Selatan.

Suasana di Kampung Naga ini masih terasa begitu asri dengan udaranya yang sejuk.

Suara air sungai mengalir bersatu padu dengan semilir angin yang berembus di antara dedaunan dan batang padi yang menjulang tinggi.

Ketika berhasil melewati 444 tangga, derasnya arus Sungai Ciwulan di sebelah utara dan pesawahan di sebelah selatan menyambut kedatangan siapapun yang melewatinya.

Di seberang Sungai Ci Wulan, terdapat Hutan Larangan. Hutan itu merupakan kawasan yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun, termasuk masyarakat Kampung Naga sendiri.

Meskipun jaraknya yang tidak terlalu jauh dari jalan raya dengan segala hiruk pikuknya, memasuki Kampung Naga seperti berada di dimensi lain.

Hidup di antara pesatnya arus globalisasi maupun digitalisasi, masyarakat Kampung Naga ternyata tidak menerima aliran listrik di wilayah mereka.

Alasannya karena mereka tidak ingin adanya kesenjangan muncul di antara masyarakat Kampung Naga.

Kang Ijad, warga Kampung Naga, mengatakan, penolakan masuknya listrik itu sudah berdasarkan kesepakatan masyarakat Kampung Naga.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved