Cerita Kampung Naga Bagian 1
Warga Kampung Naga Tasikmalaya Bersikukuh Tolak Listrik, Tapi Punya HP
Warga Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, bersikukuh menolak masuknya aliran listrik ke kampung mereka.
Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Rheina Sukmawati
TRIBUNPRIANGAN.COM, KABUPATEN TASIKMALAYA – Warga Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, bersikukuh menolak masuknya aliran listrik ke kampung mereka.
Di sisi lain, mereka tak kuasa menolak kehadiran perangkat komunikasi. Handphone atau HP yang memerlukan listrik untuk mengisi daya baterainya menjadi barang elektronik yang leluasa hilir mudik di dalam kampung adat.
Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat tradisional di wilayah Tatar Sunda yang masyarakatnya masih memegang pola hidup Sunda Buhun.
Bagi orang Naga, hidup selaras dengan alam adalah sebuah keniscayaan. Termasuk menjaga amanat kesetiaan pada adat tradisi leluhur atau karuhun.
Lokasi kampung ini tak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Garut dan Tasikmalaya. Dari arah Garut Kota, bisa ditempuh sekira 45 menit.
Letaknya di sebuah lembah yang subur di tepi Sungai Ci Wulan. Sungai ini berhulu di Gunung Ci Kuray Garut dan bermuara di Cipatujah, Tasikmalaya Selatan.
Suasana di Kampung Naga ini masih terasa begitu asri dengan udaranya yang sejuk.
Suara air sungai mengalir bersatu padu dengan semilir angin yang berembus di antara dedaunan dan batang padi yang menjulang tinggi.
Ketika berhasil melewati 444 tangga, derasnya arus Sungai Ciwulan di sebelah utara dan pesawahan di sebelah selatan menyambut kedatangan siapapun yang melewatinya.
Di seberang Sungai Ci Wulan, terdapat Hutan Larangan. Hutan itu merupakan kawasan yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun, termasuk masyarakat Kampung Naga sendiri.
Meskipun jaraknya yang tidak terlalu jauh dari jalan raya dengan segala hiruk pikuknya, memasuki Kampung Naga seperti berada di dimensi lain.
Hidup di antara pesatnya arus globalisasi maupun digitalisasi, masyarakat Kampung Naga ternyata tidak menerima aliran listrik di wilayah mereka.
Alasannya karena mereka tidak ingin adanya kesenjangan muncul di antara masyarakat Kampung Naga.
Kang Ijad, warga Kampung Naga, mengatakan, penolakan masuknya listrik itu sudah berdasarkan kesepakatan masyarakat Kampung Naga.
Karena pemerintah sendiri pernah menawarkan listrik gratis bagi masyarakat Kampung Naga, namun tetap ditolak.
“Kami tidak ingin kehadiran listrik ini menimbulkan iri dengki dan kesenjangan. Yang kaya bisa membeli peralatan elektronik, televisi besar, kulkas besar, sementara yang miskin hanya bisa melihat,” kata Kang Ijad yang juga pemandu wisata saat berbincang dengan TribunPriangan.com, Jumat (14/10/2022).
Ijad menerangkan, untuk penerangan di malam hari, warga Kampung Naga menggunakan lampu tempel, lampu teplok, lampu badai atau petromaks.
Minyak tanah sebagai bahan bakar lampu teplok itu, kata Ijad, masih bisa diperoleh, karena ada pasokan dari pemerintah.
“Waktu minyak tanah dihilangkan, kami sempat kerepotan juga. Namun kami meminta kepada pemerintah untuk menyediakan khusus bagi Kampung Naga. Alhamdulillah, ada subsidi minyak tanah khusus untuk Kampung Naga,” kata Kang Ijad.
Menurut Kang Ijad, masyakarat Kampung Naga akan lebih mementingkan "Gaya Hidup" dibandingkan dengan "Hidup Gaya.
"Gaya Hidup" adalah bagaimana cara masyarakat Kampung Naga menjalani kehidupan mereka yang harus serasi dengan alam. Alam menjadi unsur penting dalam kehidupan masyarakat Kampung Naga. Apapun yang mereka lakukan haruslah selaras dengan alam; dari alam, untuk alam, kembali ke alam,” tutur Kang Ijad.
Ijad percaya bahwa sejatinya alam tidak akan pernah mencelakai manusia.
Yang ada adalah manusia yang serakah terhadap alam sehingga alam murka terhadapnya.
Sementara "Hidup Gaya" adalah prinsip hidup agar terlihat "gaya" atau keren di mata orang lain.
Menurut Kang Ijad, hal tersebut tidak akan membawa ketenangan dalam hidup mereka. Bukan tidak mungkin kesenjangan pun muncul di antara masyarakat Kampung Naga.
Ketika orang mulai berlomba-lomba menunjukkan siapa yang memiliki peralatan paling canggih. Hal itu sangat dihindari oleh masyarakat Kampung Naga.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/kampung-naga-1.jpg)