Disposal Tol Cisumdawu Bermasalah di Sumedang, Bupati: Bendung Cihamerang Akan Dikeringkan
Saluran air yang tertutup disposal pembangunan Tol Cisumdawu menjadi biang celaka. Air menggenang menjadi Bendung Cihamerang
Penulis: Kiki Andriana | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Kiki Andriana
TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Saluran air yang tertutup disposal pembangunan Tol Cisumdawu menjadi biang celaka. Air menggenang menjadi Bendung Cihamerang. Bendung itu menenggelamkan sawah-sawah produktif milik warga. Hingga kini, belum ada solusi jitu selain sebatas santunan dari Pemkab Sumedang.
Penanggulangan bendung itu seharusnya menjadi tanggung jawab PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT), perusahaan pengelola jalan Tol Cisumdawu. Namun, PT CKJT "leuleus". Sehingga, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir mengajak berbagai pihak pemerintahan untuk turun tangan menanggulangi bendung itu.
Seperti legenda Sangkuriang murka, Dony Ahmad Munir akan mengeringkan bendung itu. Dia bersama jajaran Forkopimda Balai Perbaikan Jalan Nasional (BPJN), BBWS, CKJT, PUTR Provinsi Jabar dan CV Tintin melakukan monitoring ke Bendung Cihamerang dan langsung menggelar rapat koordinasi Ruang Rapat Bupati di Pusat Pemerintahan Sumedang, Senin (8/12/2025).
Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran adanya rongga tanah, rembesan air, dan potensi pergerakan tanah yang dapat memicu longsoran bahkan mengancam struktur jalan tol dan permukiman warga. Namun hingga kini, kondisi sebenarnya di bawah permukaan masih menjadi tanda tanya.
“Kita belum tahu pasti apa yang terjadi di bawah. Belum ada ahli yang meneliti langsung. Kekhawatirannya, air akan terus mencari celah, membentuk rongga-rongga baru, lalu melebar. Ini yang tidak kita harapkan,” kata Bupati.
Baca juga: Perusahaan Tol Tak Mampu Tangani Masalah Saluran Air Cihamerang di Sumedang
Selain ancaman teknis bendungan, terdapat pula permukiman di bagian atas lokasi yang mulai menunjukkan potensi rawan longsor.
Bupati menegaskan bahwa penanganan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. Tujuan utamanya bukan hanya memperbaiki bendungan, tetapi juga memastikan keselamatan masyarakat di sekitar lokasi.
“Tahapan penanganannya jelas: pengeringan air, penataan lahan, dan pembebasan lahan terdampak. Tapi yang paling utama, kita ingin memastikan keselamatan warga,” ucapnya.
Bupati Dony menegaskan bahwa penanganan Bendung Cihamerang tidak bisa dikerjakan hanya oleh satu instansi.
“Ini kerja bersama. Pemerintah daerah, Balai Besar, ahli geoteknik, dan pengelola jalan tol semua harus bergerak. Kita tidak ingin terjadi kejadian yang lebih besar karena terlambat bertindak,” ujarnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sumedang, Andri Indra, melaporkan bahwa akses menuju bendungan sudah mulai dibuka sejak pertengahan Oktober.
Menurutnya, pembukaan akses ini penting agar alat berat dan pompa dapat masuk ke titik bendung. Dalam rapat tersebut diputuskan bahwa metode penanganan awal adalah pengeringan bertahap menggunakan pompa berkapasitas 500 liter per detik.
Namun Andri menegaskan, proses pengeringan tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa.
“Kalau air diturunkan terlalu cepat, tanah bisa runtuh atau muncul longsoran baru. Karena itu diperlukan uji permeabilitas tanah dan analisa laju penurunan air oleh ahli geoteknik,” katanya.
| Di Balik Berdirinya MAN IC Sumedang, Ada Perjuangan Panjang Komisi III DPRD |
|
|---|
| Pelayanan Paspor di MPP Sumedang Kini Jadi Dua Kali Sepekan |
|
|---|
| Jadwal SIM Keliling Hari Ini Polres Sumedang Digelar di Area Alun-alun Tanjungsari |
|
|---|
| Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan Puji Transformasi Digital dan Tata Kelola Pemkab Sumedang |
|
|---|
| Dedi Mulyadi Sebut Wabup Sumedang Fajar Aldila Kader Masa Depan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/Bupati-sumedang-tinjau-bendung-cihamerang-1.jpg)