Kamis, 11 Juni 2026

Sudah 3 Generasi, Jalan di Cimerak Pangandaran Ini Dibiarkan Berbatu

Sudah tiga generasi, jalan di Cimerak Pangandaran dibiarkan rusak, padahal Bupati sudah berkunjung

Tayang:
Penulis: Padna | Editor: ferri amiril
TribunPriangan.com/istimewa
JALAN RUSAK - Kondisi jalan penghubung Desa Kertamukti dan Desa Kertaharja di Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran yang mengalami kerusakan parah selama puluhan tahun, Kamis (11/6/2026). 

Ringkasan Berita:* Sudah tiga generasi, jalan di Cimerak Pangandaran dibiarkan rusak, padahal Bupati sudah berkunjung

 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna


TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Sudah tiga generasi, jalan di Cimerak Pangandaran dibiarkan rusak, padahal Bupati sudah berkunjung.

Di tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata Kabupaten Pangandaran, masih terdapat persoalan infrastruktur dasar yang belum terselesaikan.

Satu di antaranya kondisi jalan penghubung Desa Kertamukti dan Desa Kertaharja di Kecamatan Cimerak, yang mengalami kerusakan parah selama puluhan tahun.

Jalan yang menjadi akses utama aktivitas warga itu hingga kini masih dipenuhi bebatuan besar dan lubang di sejumlah titik. 

Saat musim hujan, kondisi jalan bebatuan itu berubah menjadi licin dan membahayakan pengguna kendaraan, terutama pengendara sepeda motor serta anak-anak yang setiap hari melintas menuju sekolah.

Baca juga: Listrik Kerap Padam Bergilir di Pangandaran, Warga Mengeluh, PLN Sebut Ini Demi Keandalan Jaringan

Seorang warga Dusun Sukamanah, Desa Kertamukti, Asih (51), mengaku kondisi itu sudah berlangsung sejak dirinya pertama kali menetap di wilayah itu sekitar 30 tahun lalu.

"Saya pindah dari Jawa Tengah ke sini sudah sekitar 30 tahun. Dari pertama datang sampai sekarang, jalan ini sudah rusak dan belum pernah benar-benar diperbaiki," ujar Asih kepada sejumlah wartawan di Cimerak, Kamis (11/6/2026) pagi.

Menurutnya, kerusakan jalan itu sudah menjadi pemandangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Anak yang dibesarkannya kini telah berusia 30 tahun dan memiliki anak, namun kondisi jalan masih tidak berubah.

"Anak saya sekarang sudah berusia 30 tahun, bahkan sudah punya anak. Artinya cucu saya juga melihat kondisi jalan yang sama. Dari generasi ke generasi, jalan ini tetap rusak," katanya.

Ia menilai kerusakan jalan tidak hanya mengganggu kenyamanan, tapi berdampak terhadap keselamatan, pendidikan, dan perekonomian masyarakat. Ketika hujan turun, anak-anak sekolah harus ekstra hati-hati melintasi jalan yang licin dan berbatu.

Selain itu, akses warga untuk mengangkut hasil pertanian serta menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari juga kerap terhambat akibat kondisi jalan yang jauh dari kata layak.

"Kami berharap adanya perbaikan. Kami juga ingin merasakan jalan mulus seperti daerah lainnya," ucap Asih.

Kekecewaan warga semakin bertambah karena selama bertahun-tahun perbaikan jalan kerap menjadi janji saat momentum politik, namun belum terealisasi.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved