Senin, 11 Mei 2026

Mitigasi Bencana Sejak Dini

Ketua Tagana Nilai Mitigasi Tsunami di Pangandaran Belum Maksimal

Menurut Nana, berbagai kebutuhan dasar seperti pemeliharaan gedung evakuasi dan penambahan rambu evakuasi belum terpenuhi secara optimal. 

Tayang:
Penulis: Padna | Editor: Dedy Herdiana
Tribunpriangan.com/Padna
TUGU TSUNAMI PANGANDARAN - Penampakan Tugu Tsunami di sekitar Pantai Madasari, Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (8/2/2025). Ketua Tagana menilai Mitigasi Bencana Tsunami di Pangandaran belum maksimal. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pangandaran, Nana Suryana, menilai upaya Mitigasi Bencana Tsunami di wilayahnya belum mendapat dukungan maksimal dari pemerintah daerah.

Menurut Nana, berbagai kebutuhan dasar seperti pemeliharaan gedung evakuasi dan penambahan rambu evakuasi belum terpenuhi secara optimal. 

Hingga saat ini, tim Tagana Kabupaten Pangandaran masih mengandalkan program-program dari pemerintah pusat.

"Kami belum mendapatkan dukungan terkait pemeliharaan gedung evakuasi dan penambahan rambu-rambu. Saat ini mungkin kami hanya mengambil program-program dari pemerintah pusat," ujar Nana kepada Tribun Jabar di Wonoharjo Kecamatan Pangandaran, Selasa (2/9/2025) siang. 

Baca juga: Mengenal Megathrust Tsunami di Garut Selatan, Komunitas Kebencanaan Tingkatkan Skill Rescue

Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pangandaran disebut terus berupaya menjalin kolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam memperkuat strategi mitigasi, khususnya di wilayah pesisir yang rawan Tsunami.

Namun, satu kendala utama di Pangandaran adalah minimnya dataran tinggi yang bisa dijadikan tempat evakuasi ketika bencana terjadi. 

Tentu, hal itu menjadi tantangan serius yang harus diantisipasi sejak dini."Ketika terjadi tsunami, waktu evakuasi sangat krusial. Jarak dari bibir pantai ke titik tertinggi bisa memakan waktu hingga setengah jam jika berjalan kaki," katanya.

Ia menegaskan, pentingnya penyusunan rencana kontinjensi yang diperbarui secara berkala, termasuk dengan menggelar simulasi siaga tsunami secara rutin dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

"Simulasi harus dilakukan setiap tahun, agar masyarakat tahu ke mana harus lari saat tsunami datang. Ini kan menyangkut keselamatan nyawa," ucap Nana. (*)

Baca juga: Menengok Tugu Tsunami Pangandaran di Pantai Madasari, Kini Tak Terawat

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved