Kamis, 4 Juni 2026

Naskah Khutbah Jumat

Naskah Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Cara Selamat dari Pemikiran Menyimpang

Naskah Khutbah Jumat 5 Juni 2026/ 19 Zulhijjah 1447 H: Cara Selamat dari Pemikiran Menyimpang

Tayang:
Tribunpriangan.com/Dedy Herdiana
NASKAH KHUTBAH JUMAT - Naskah Khutbah Jumat 5 Juni 2026/ 19 Zulhijjah 1447 H: Cara Selamat dari Pemikiran Menyimpang. (foto: Sejumlah jamaah saat mendengar khutbah Jumat di Masjid Agung Trans Studio Bandung, Jumat (21/2/2025). 

مَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

“Siapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.”

Terkait dengan ayat tersebut, Imam Maki bin Abi Thalib dalam kitabnya, al-Hidāyah ilā Bulūgh an-Nihāyah jilid 8, halaman 5127 menerangkan bahwa, barang siapa yang tidak Allah beri keimanan, hidayah dari kesesatan, dan pengetahuan dari kitab-Nya, maka ia tidak akan mendapatkan petunjuk, iman, dan pengetahuan.

Ayat dan perkataan tersebut menunjukkan bahwa keimanan merupakan cahaya penerang di tengah gelapnya kesesatan. Dengan demikian, dalam mengarungi sungai kehidupan ini, kita perlu untuk menguatkan keimanan karena ia akan menjadi petunjuk dan penguat langkah perjuangan.

Jamaah sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Persiapkan Diri Sebelum Menghadapi Kematian

Kedua:Mengikuti pemahaman para salaf
Selain menguatkan keimanan, kita juga perlu untuk menambah pengetahuan dengan mengikuti pemahaman para salafus shalih terdahulu, yaitu para sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin. Mereka adalah generasi yang sangat dekat dengan Rasulullah, mendapat bimbingan langsung dari beliau dan para sahabat, serta sangat memahami ajaran Islam yang Rasulullah terangkan.

Baca juga: Ujian Keimanan Imam Ahmad bin Hanbal dari Para Penguasa

Imam Malik bin Anas berkata, sebagaimana termaktub dalam kitab Majmū’ al-Fatāwā karya Imam Ibnu Taimiyah, jilid 27, halaman 396,

لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا.

“Tidak akan menjadi baik (islah) generasi terakhir dari umat ini, kecuali dengan apa yang telah membuat generasi awalnya menjadi baik.”

Ungkapan yang sekaligus kaidah penting tersebut, menunjukkan kepada kita bahwa generasi awal terdahulu merupakan generasi terbaik untuk diikuti dan diteladani. Sehingga dalam menghadapi derasnya arus globalisasi, teknologi, dan pemikiran menyimpang ini, kita perlu untuk senantiasa kembali kepada pemahaman para salaf terdahulu.

Jamaah sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah Ta’ala

Baca juga: Naskah Singkat Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Pemikiran Akhir Zaman yang Merusak Iman

Ketiga:Menjadikan dunia sebagai wasilah akhirat
Selain menguatkan keimanan dengan pemahaman para salaf, kiat terakhir yang tak kalah penting yaitu perlunya menjadikan dunia sebagai wasilah menuju akhirat.

Hal ini karena hakikat kehidupan dunia adalah tempat beramal untuk meraih kebahagiaan akhirat. Selain itu, betapa banyak manusia yang tergelincir dan terbawa arus ketamakan dunia serta melupakan kehidupan akhiratnya.

Terkait hal ini, Imam Ahmad bin Hambal berkata, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitab al-Zuhdu al-Kabīr jilid 1 halaman 282,

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved