Naskah Khutbah Jumat
Naskah Singkat Khutbah Jumat 5 September 2025: Kepemimpinan Nabi Muhammad Menjadi Teladan
Berikut Naskah Khutbah Jumat 5 September 2025: Kepemimpinan Nabi Muhammad Teladan bagi Pemimpin Negara
Penulis: Riswan Ramadhan Hidayat | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUNPRIANGAN.COM – Tribuners, kepemimpinan Nabi Muhammad SAW menjadi teladan bagi pemimpin negara karena menunjukkan keadilan, musyawarah, kebijaksanaan, kerendahan hati, dan kemampuan mengelola berbagai bidang kehidupan secara profesional.
Beliau mengutamakan kepentingan bersama, memberikan contoh dengan sifat amanah dan fathonah (cerdas), serta memimpin dengan akhlakul karimah (akhlak mulia).
Sosoknya menjadi inspirasi bagi para pemimpin untuk membangun negara yang adil dan sejahtera, dengan menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman.
Berbicara perihal Jumat hari ini, tepatnya di hari Jumat tanggal 5 September 2025, kita selaku laki-laki beragama muslim akan melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Hari Jumat yang merupakan Sayyidul Ayyam atau Penghulunya Hari pun diyakini oleh kaum muslimin sebagai hari yang penuh keberkahan.
Khusus untuk khutbah pada Jumat hari ini, berikut merupakan naskah khutbah Jumat yang sudah TribunPriangan.com lansir dari NU Online untuk tanggal 5 September 2025 bertemakan "Kepemimpinan Nabi Muhammad Teladan bagi Pemimpin Negara".
Baca juga: Naskah Bahasa Sunda Khutbah Jumat 5 September 2025: 3 Tetenger Hirup Manusia di Alam Dunya
Khutbah 1
الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ (المائدة: ٨). وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُصَلُّونَ. اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 5 September 2025: Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah!
Pemimpin adalah tokoh sentral dalam kemajuan bangsa. Jika pemimpin baik, maka bangsa akan maju, begitu juga sebaliknya. Indonesia adalah negara besar yang telah mengalami beberapa kepemimpinan sepanjang sejarah. Problem kepemimpinan selalu muncul di tengah masyarakat Indonesia dari level tertinggi hingga terendah. Untuk mendapatkan gambaran pemimpin yang ideal, kita dapat melihat sosok Nabi Muhammad saw yang telah berhasil menanamkan keadilan dalam pemerintahan dan membawa Madinah menjadi kota yang maju melampaui masanya.
Hal ini tidak terlepas dari sikap tegas Nabi Muhammad dalam mengambil kebijakan yang berkeadilan. Nabi tidak pernah membedakan perlakuan kepada orang yang terhormat dan rakyat biasa di depan hukum, bahkan kepada keluarga sendiri. Dalam sebuah riwayat yang dikutip Al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari, juz 4, halaman 175, meriwayatkan hadis sebagai
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ المَرْأَةِ المَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ، فَقَالُوا: وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ، ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
Artinya: "Dari Aisyah ra., bangsa Quraisy pernah mengalami konflik kepentingan dalam kasus pencurian yang dilakukan oleh seorang wanita bangsawan dari suku Makhzumiyah. Mereka berdiskusi: siapa yang bisa menyampaikan amnesti ini kepada Rasulullah? Mereka memutuskan: tidak ada yang berani menyampaikan ini, kecuali Usamah ibn Zaid, orang yang dicintai Rasulullah. Usamah ibn Zaid menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah. Rasulullah tegas merespons: apakah kamu berani memberikan amnesti hukum yang telah ditetapkan Allah?! Nabi kemudian bangun dan berkata: sesungguhnya hal yang menjadikan umat terdahulu hancur (dibenci Allah) adalah mereka tidak menjatuhkan hukuman kepada orang yang terhormat jika melakukan pencurian, tetapi mereka menjatuhkan hukuman kepada orang lemah yang melakukan pencurian. Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, maka sungguh aku potong tangannya (sebagai balasan pencurian)."
Fenomena di atas rasanya akan sulit kita dapati dari pemimpin di era sekarang yang terkesan memberikan perlindungan terhadap keluarga, kerabat, dan orang-orang terdekat yang terlibat kasus hukum. Keadilan hukum lebih banyak ditegakkan kepada orang lemah, rakyat biasa, atau orang-orang yang tidak berada di lingkungan kekuasaan. Hal ini menjadi perhatian Allah ketika menurunkan Al-Qur’an, surat Al-Maidah, ayat 8:
ياَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/khutbah-jumat-di-masjid-agung-trans-studio-bandung-3.jpg)