Jumat, 29 Mei 2026

Valliving Craft: Ubah Limbah Jadi Produk yang Bernilai Tinggi dan Personal

Sejak awal merintis usaha, sang pemilik yang bernama Reni Juanti mengaku tak pernah memandang bisnis ini sebagai sebuah 'percobaan' atau sekadar hobi

Tayang:
Penulis: Aldi M Perdana | Editor: Dedy Herdiana
istimewa
PRODUK VALLIVING CRAFT - Salah satu produk dari Valliving Craft yang ditampilkan di Rumah BUMN, Jalan Jurang Nomor 50, Kota Bandung, Jawa Barat. 

Laporan Jurnalis TribunPriangan.com, Aldi M Perdana

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Di tengah arus modernisasi ketika mesin-mesin pabrikan mampu mereplikasi ribuan produk dalam hitungan jam, sebuah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal asal Bandung bernama Valliving Craft justru memilih jalan sunyi yang menantang arus.

Dengan mengusung idealisme produk buatan tangan (handmade), lini bisnis ini berhasil menciptakan ceruk pasar tersendiri yang tidak mampu disentuh oleh korporasi besar.

Sejak awal merintis usaha, sang pemilik yang bernama Reni Juanti mengaku tidak pernah memandang bisnis ini sebagai sebuah 'percobaan' atau sekadar hobi pengisi waktu luang.

"Saya yakin dengan kemampuan saya dalam bidang usaha ini, makanya saya memulainya," tegas Reni kepada TribunPriangan.com pada Senin (18/5/2026).

Berbekal keyakinan penuh terhadap keahlian seni dan potensi industri kreatif, langkah pertama Reni diambil dengan optimisme bahwa produk yang dihasilkan akan menemukan pasarnya sendiri.

Keyakinan tersebut kini menjelma menjadi sebuah identitas merek yang kuat di industri kerajinan.

Baca juga: Warung dan Bumdes Jadi Senjata Hapus Stunting? Ini Strategi Desa BRIlian Margamukti di Sumedang

Keunikan utama dari Valliving Craft terletak pada bahan baku dan filosofi pembuatannya.

Memanfaatkan sisa-sisa material yang kerap dianggap sampah —mulai dari potongan kayu, kain perca, hingga sisa benang— UMKM ini berhasil mentransformasikannya menjadi produk dekorasi dan utilitas bernilai estetika tinggi.

Pendekatan ramah lingkungan ini tidak hanya menjadi daya tarik visual, melainkan sebuah gerakan nyata dalam pelestarian alam.

"Sebagian produk kami adalah hasil daur ulang dari sisa kayu, kain, dan benang yang tentunya ramah lingkungan. Bagi pelanggan, membeli produk kami berarti turut membantu melestarikan lingkungan, sekaligus menyokong keberlangsungan penghasilan para perajin kami," tutur Reni.

PEMILIK VALLIVING CRAFT - Reni Juanti bersama sejumlah produk karyanya di booth Valliving Craft saat bazzar.
PEMILIK VALLIVING CRAFT - Reni Juanti bersama sejumlah produk karyanya di booth Valliving Craft saat bazzar. (istimewa)

Strategi bertahan Valliving Craft di tengah perubahan perilaku konsumen yang sangat dinamis terletak pada nilai personalisasi.

"Setiap produk kami rancang secara spesifik, memungkinkan setiap konsumen memiliki barang yang mencerminkan kepribadian unik mereka masing-masing," jelasnya.

Ide atas ikatan emosional inilah yangg ditawarkan Valliving Craft. Menurut Reni, hubungan dengan pelanggan bukan lagi sekadar transaksi jual-beli, melainkan sebuah apresiasi terhadap identitas diri.

"Kelompok masyarakat yang peduli lingkungan dan berkarakter unik inilah yang selalu menjadi bayangan fokus utama saat inovasi produk baru kami dirancang," lengkap Reni.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved