Senin, 8 Juni 2026

Dampak El Nino

Waspada Dampak El Nino dan Penurunan Curah Hujan, Ciamis Garut dan Tasik Bakal Terimbas

BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, memprediksi puncak musim kemarau di wilayah Jawa Barat terjadi pada Agustus 2026, BPBD antisipasi ancaman

Tayang:
Editor: Machmud Mubarok
TribunPriangan.com/Jaenal Abidin
TERANCAM KESULITAN AIR - Dampak El Nino akan menyebabkan kekeringan dan penurunan curah hujan yang berdampak kesulitan air bersih. Foto ilustrasi saat petugas BPBD Kota Tasikmalaya menyalurkan air bersih ke salah satu wilayah yang terdampak kemarau, di wilayah Tamansari pada Selasa (10/9/2024). 

Ringkasan Berita:
  • BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Jawa Barat terjadi pada Agustus 2026 akibat fenomena El Nino moderat.
  • Penurunan curah hujan signifikan berpotensi mengganggu sektor pertanian, irigasi, dan ketersediaan air bersih.
  • BPBD Jawa Barat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
  • Gubernur Dedi Mulyadi memimpin rapat koordinasi untuk memitigasi dampak kemarau panjang dan masalah persampahan.

 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurahman

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, memprediksi puncak musim kemarau di wilayah Jawa Barat, termasuk wilayah Priangan Timur Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Pangandaran, dan Kota Banjar, terjadi pada Agustus 2026. 

Kondisi tersebut, diperkirakan turut dipengaruhi fenomena El Nino yang berdampak pada penurunan curah hujan secara signifikan.

Fungsional Pengamat Meteorologi dan Geofisika Muda BMKG Bandung, Yuni Yulianti, mengatakan musim kemarau tahun ini sudah mulai berlangsung di wilayah Bandung dan sekitarnya, seiring masuknya pola musim kering di sebagian besar wilayah Jawa Barat.

“Untuk tahun 2026 ini, memang sudah musim kemarau, dan BMKG memprediksi akan disertai El Nino,” ujar Yuni, Sabtu (6/6/2026).

El Nino, kata Yuni, merupakan anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik ekuator yang berdampak pada berkurangnya pembentukan awan hujan di Indonesia. Kondisi ini, berpotensi menurunkan curah hujan di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat.

“Untuk tahun ini diprediksi El Nino moderat, dengan peluang kecil menuju kuat, tetapi dominan tetap moderat,” ucapnya.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Kabupaten Garut Hari Ini Menurut BMKG: Berawan Siang hingga Malam Hari

Baca juga: Petani Ciamis Selatan, Hujan Kebanjiran dan Kemarau Kekeringan

Menanggapi istilah El Nino Godzilla yang kerap muncul di publik, BMKG menegaskan istilah tersebut tidak digunakan secara resmi dalam klasifikasi meteorologi.

“BMKG sendiri tidak pernah merilis adanya El Nino Godzilla. Kami mengkategorikan El Nino itu menjadi tiga, yaitu El Nino lemah, moderat, dan kuat,” katanya. 

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.

“Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus, termasuk wilayah Bandung Raya. Secara umum, curah hujan lebih rendah dan durasi musim kemarau di beberapa wilayah bisa lebih panjang dari normal,” katanya. 

BMKG mengingatkan bahwa penurunan curah hujan akibat El Nino berpotensi berdampak pada sejumlah sektor, terutama pertanian, irigasi, dan ketersediaan air bersih.

“Kami mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan penghematan air, dan sektor pertanian menyesuaikan pola tanam serta memilih varietas yang tahan kekeringan,” katanya.

Selain itu, pengelolaan irigasi dan waduk juga diminta untuk dioptimalkan guna mengantisipasi berkurangnya suplai air selama musim kemarau berlangsung.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved