Sabtu, 11 April 2026

Idul Fitri 2026

Naskah Khutbah Idul Fitri 1447 H Muhammadiyah Bertema Pengingat Kehidupan Dunia

3 Naskah Khutbah Idul Fitri 1447 H/ 2026 Resmi Muhammadiyah, Bertema Pengingat Kehidupan Dunia yang Menipu

Penulis: Lulu Aulia Lisaholith | Editor: ferri amiril
SERAMBI/M Anshar
NASKAH KHUTBAH LEBARAN - 3 Naskah Khutbah Idul Fitri 1447 H Resmi Muhammadiyah, Bertema Pengingat Kehidupan Dunia yang Menipu. Ilustrasi shalat Idul Fitri 

TRIBUNPRIANGAN.COM - Hari kemenangan tinggal menghitung beberapa hari kedepan.

Momen setahun sekali ini, menjadi bukti keseriusan setiap muslim dalam menjalani pengabdian kepada Allah Subhana Wata'ala.

Bukan hanya sekedar pengabdian dan ganjaran, melainkan rezeki bertemu dengan bulan yang dimuliakan dalam islam ini, menjadi ajang perlombaan menggapai ridho Allah semasa didunia.

Seperti yang diketahui, khutbah Idul Fitri menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian ibadah shalat Idul Fitri yang disampaikan oleh khatib kepada jamaah. 

Khutbah ini berisi nasihat, motivasi, serta pengingat bagi kaum Muslimin agar tetap menjalani kehidupan dengan penuh ketakwaan setelah Ramadan berlalu.

Baca juga: 3 Naskah Khutbah Idul Fitri 1447 H/ 2026 Resmi Kemenag.co.id dengan Berbagai Tema Pengingat

3 Naskah Khutbah Jumat Bertemakan Pengingat Kehidupan Dunia yang Menipu

1. Khutbah Idul Fitri 1447 H: Merengkuh Taqwa Menjadi Muslim Wasathiyyah

Khutbah I

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ اَمَّا بَعْدُ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً. اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Tuhan Pelimpah cahaya-cahaya. Pembuka penglihatan, Penyingkap rahasia-rahasia, dan Penyibak selubung tirai-tirai. Dialah Allah, Yang Maha Awal tanpa permulaan, Yang Maha Akhir tanpa penghujung, dan Yang Maha Abadi tanpa perubahan.

Shalawat dan salam semoga terus terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, cahaya segala cahaya, pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa, kekasih Sang Penguasa Yang Maha Perkasa, pembawa berita gembira dari Yang Maha Pengampun, dan pembuka tabir kepalsuan kaum durhaka. Demikian pula semoga rahmat terlimpahkan kepada keluarga dan para sahabat.

Semoga kita senantiasa menjadi hamba-hamba Allah yang terus memelihara keislaman, memperkuat keimanan, dan memperteguh keihsanan. Di zaman tunggang-langgang seperti ini, rasa-rasanya merawat islam, iman, dan ihsan adalah sesuatu yang sukar. Karenanya, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, satu derajat lebih tinggi dari hari kemarin.

Jemaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Konsep wasathiyah dalam Islam bukanlah ajaran baru. Bukan pula suatu ijtihad pemikiran yang baru muncul pada abad 20 Masehi atau 14 Hijriah. Melainkan telah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW sebagai prinsip dasar dalam menjalankan berkehidupan sehari-hari.

Nabi Muhammad pernah menampilkan sikap wasathiyah ketika berdialog dengan para sahabat. Kisah yang direkam Aisyah ini menceritakan tiga orang sahabat yang mengaku menjalankan agamanya dengan baik. Masing-masing dari ketiga sahabat itu mengaku rajin berpuasa dan tidak berbuka; selalu shalat malam dan tidak pernah tidur; dan tidak menikah lantaran takut mengganggu ibadah.

Rasulullah pada saat itu menegaskan bahwa beribadah memiliki kadarnya masing-masing. Harus ada keseimbangan antara tanggungjawab keagamaan dan tanggungjawab pribadi. Nabi berkata walaupun dirinya adalah seorang utusan Allah SWT, ia tetap harus berbuka puasa, tidur dan menikah. Dan jelas bahwa Nabi adalah hamba istimewa karena menjadi utusan Allah untuk memperbaiki akhlak umat manusia.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved