Jumat, 17 April 2026

Kang Dedi Akan Segera Putuskan Program MBG di Jabar, Lanjut Atau Tidak?

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, segera menentukan kelanjutan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Barat

Editor: ferri amiril
Tribunjabar.id/Nazmi Abdurahman
TENTUKAN PROGRAM Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, segera menentukan kelanjutan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Barat 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Hilman Kamaludin

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, segera menentukan kelanjutan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Barat usai banyaknya kasus keracunan akibat menyantap menu tersebut.

Terbaru lebih dari 1.000 siswa menjadi korban keracunan MBG di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kasus keracunan yang pertama terjadi Senin (22/9/2025) dengan korban 475 siswa di Kecamatan Cipongkor.

Kemudian pada Rabu (24/9/2025) terjadi di Cipongkor dan Cihampelas. Dari data sementara, ada 500 korban di Kecamatan Cipongkor dan 60 korban di Kecamatan Cihampelas, sehingga jika diakumulasikan ada 1035 siswa yang menjadi korban keracunan MBG di Bandung Barat.

"Nanti kita hari Senin akan bicara dulu dengan kepala perwakilan (BGN) wilayah Jawa Barat, bagaimana komitmen dia. Setelah melihat komitmennya, nanti pemerintah provinsi akan mengambil keputusan," ujar Dedi saat ditemui di Gedung DPRD Kota Bandung, Kamis (25/9/2025).

Keputusan yang akan diambil nanti apakah program MBG di Jabar ini dihentikan sementara atau tetap dilanjutkan. Hal ini akan diputuskan setelah pertemuan dengan kepala BGN wilayah Jabar sebagai penanggung jawab program ini.

Baca juga: Antisipasi Keracunan MBG, Bupati Sumedang Lakukan Hal Ini

Dedi mengatakan, pihaknya akan mengundang kepala BGN perwakilan wilayah Jawa Barat untuk secara bersama-sama mengevaluasi peristiwa-peristiwa yang terjadi, kemudian nantinya akan langsung dievaluasi.

"Nah peristiwa yang terjadi itu misalnya, nanti saya meminta evaluasi dapurnya. Dapurnya higienis atau tidak atau bahasa akademiknya audit," katanya.

Kemudian yang kedua, kata dia, akan dilakukan evaluasi jenis-jenis bahan makanan yang digunakan dan ketiga evaluasi jam masak untuk memastikan waktu distribusi hingga MBG tersebut dimakan oleh pelajar di sekolah.

"Karena kan kalau dimasaknya jam 12 malam, kemudian diantar ke siswanya jam 12 siang waktunya terlalu lama. Sehingga harapan saya ke depan dapur itu didekatkan dengan sekolah, dan tingkat yang dilayani jumlahnya jangan terlalu banyak sampai ribuan," ujar Dedi.

Menurutnya, dengan jangka waktu seperti itu, siapapun tidak akan sanggup untuk mengelola jumlah makanan yang banyak hingga ribuan. Apalagi, masaknya harus tiap hari tidak pernah berhenti kemudian jarak tempuh dari dapur ke sekolahnya juga jauh.

Baca juga: Lebih dari 1.000 Siswa Jadi Korban Keracunan MBG di Bandung Barat, 2 Kasus di 2 Kecamatan

"Pasti memiliki resiko. Nah ini yang harus kita lakukan bersama-sama. Nanti yang teknisnya itu diurus oleh penanggung jawab MBG karena anak yang kemudian mengalami keracunan mungkin besok nggak mau makan lagi," katanya.

Menurutnya, hal ini harus menjadi perhatian serius karena MBG ini merupakan program yang sangat baik dari Presiden Prabowo Subianto dengan tujuannya untuk meningkatkan nutrisi gizi protein anak-anak Indonesia.

"Anak-anak Jawa Barat bisa menjadi kuat. Jangan sampai dalam teknis pengelolaannya salah urus," ujar Dedi.(*)
 

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved