Rabu, 22 April 2026

Refleksi Hari Kartini di Garut, Perempuan Dinilai Semakin Jauh dari Ekologi

Refleksi Hari Kartini di Garut menyoroti meningkatnya jarak antara perempuan dan ekologi, yang salah satunya dipicu oleh distrupsi teknologi

Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: ferri amiril
TribunPriangan.com/Sidqi Al Ghifari
REFLEKSI HARI KARTINI - Refleksi dan dialog Peringatan Hari Kartini di Farm House, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026). 

Ringkasan Berita:* Refleksi Hari Kartini di Garut menyoroti meningkatnya jarak antara perempuan dan ekologi, yang salah satunya dipicu oleh distrupsi teknologi

 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Garut, Sidqi Al Ghifari 


TRIBUNPRIANGAN.COM, GARUT - Refleksi Hari Kartini di Garut menyoroti meningkatnya jarak antara perempuan dan ekologi, yang salah satunya dipicu oleh distrupsi teknologi.

Lonjakan penggunaan gawai terjadi di semua lapisan usia, bahkan anak-anak. Ketergantungan ini berdampak pada pola pikir dan perilaku, di mana kebutuhan dan keinginan kerap dibentuk oleh layar. 

Fenomena anak usia sekolah dasar yang menangis karena menginginkan produk perawatan diri menjadi gambaran perubahan nilai yang terjadi.

Selain itu, distrupsi teknologi juga memengaruhi relasi sosial dan emosi anak. Kasus perundungan meningkat, sementara peran orang tua perlahan tergantikan oleh gawai. 

Hal tersebut disampaikan oleh aktivis perempuan sekaligus tokoh lingkungan Garut Nissa Saadah Wargadipura dalam dialog refleksi Hari Kartini yang diselenggarakan DPC PDI Perjuangan di Farm House, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (21/4/2025).

Ia menjelaskan, dalam sejumlah kasus ekstrem, tekanan emosional yang tidak tersalurkan berujung pada tindakan tragis. 

Di sisi lain, etika dasar dalam interaksi sehari-hari juga mulai luntur, seperti kebiasaan sederhana mengetuk pintu atau membangun komunikasi langsung.

"Disrupsi ini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut emosi. Ketika emosi tidak terkelola dengan baik, dampaknya bisa sangat luas, termasuk pada cara kita memandang kehidupan dan lingkungan," ujarnya.

Persoalan emosi ini berkaitan erat dengan kondisi ekologi yang kian terdegradasi. Kualitas lingkungan berpengaruh langsung pada kualitas hidup, termasuk kesehatan reproduksi.

Pola konsumsi yang tidak sehat, seperti tingginya asupan gula dan makanan instan, turut memperburuk kondisi ini. Akibatnya, generasi muda tumbuh tanpa fondasi gizi yang memadai, yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan berpikir dan perkembangan mereka.

Dalam konteks ini, lanjut Nisa, perempuan dipandang memiliki peran sentral. Pilihan antara mengikuti arus disrupsi atau membangun generasi yang kuat sangat bergantung pada kesadaran perempuan

Gerakan kembali ke 'real food' atau makanan alami menjadi salah satu inti perubahan, sebagai upaya memperbaiki kualitas hidup dari hulu.

"Kemudian ada konsep Kasur, Sumur, Dapur yang sekarang dimaknai ulang secara kontekstual, kasur berkaitan dengan pentingnya istirahat yang cukup, minimal delapan jam, demi menjaga kesehatan fisik dan mental,"

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved