Longsor di Sindangkasih
Detik-detik Longsor Ciamis: Air Kolam Jebol Tembok, Mak Ikah Tertimbun di Kamar
Detik-detik lansia di Dusun Gunungbangka, Sindangkasih, Ciamis tertimbun longsor, terdengar suara gemuruh tiba-tiba air jebol tembok dan rumah ambruk
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: Machmud Mubarok
Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Tragedi longsor yang terjadi di Dusun Gunungbangka 2, RT 29/RW 10, Desa Sukamanah, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban.
Peristiwa memilukan itu terjadi pada Selasa (3/2/2026) tengah malam sekitar pukul 00.00 WIB dan merenggut nyawa seorang lansia bernama Ikah (73).
Kesaksian memilukan disampaikan Rudiana (45), menantu korban, yang saat kejadian berada di dalam rumah bersama enam anggota keluarga lainnya.
Ia mengaku tidak menyangka suara yang terdengar malam itu merupakan tanda bencana longsor.
“Waktu kejadian saya ada di rumah. Awalnya terdengar suara gerusuk-gerusuk, seperti gemuruh. Saya kira itu gempa,” ujar Rudiana saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa (3/2/2026).
Namun tak lama kemudian, suara tersebut disusul derasnya air yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah serta lumpur membuat tembok rumah tersebut ambrol.
Air tersebut diketahui berasal dari kolam yang berada di atas rumah mereka.
“Enggak tahunya langsung banyak air masuk ke rumah. Dari kolam, isinya memang cuma air, enggak ada ikannya," katanya.
Baca juga: Hujan Lebat Picu Longsor di Sindangkasih Ciamis, Kepala BPBD Ungkap Dugaan Penyebabnya
Baca juga: Breaking News - Longsor Renggut Nyawa Lansia di Sindangkasih, Rudiana Lari Gendong Anak
Rudiana menyebut, suara gemuruh itu terdengar sekitar pukul 23.30 WIB.
Sebelumnya, wilayah tersebut memang sempat diguyur hujan deras pada sore hari, meski hujan tidak berlangsung hingga malam.
“Sorenya memang hujan lebat, tapi enggak sampai malam. Sebelumnya juga enggak kelihatan ada tanda-tanda apa-apa, enggak ada bocor atau retakan,” ucapnya.
Menurut Rudiana, di belakang rumah terdapat tebing setinggi sekitar lima meter.
Tebing tersebut ambrol, bukan sekadar tembok penahan, melainkan tanah yang langsung turun dan menghantam bangunan rumah.
“Itu bukan benteng yang longsor, tapi tanahnya ambles ke bawah, baru bentengnya ikut. Jadi langsung nimbun rumah,” jelasnya.