Minggu, 10 Mei 2026

Ciamis Jadi Rujukan Pemeriksaan HIV Tanpa Stigma, Temuan Kasus Baru Capai 93

Kabupaten Ciamis dikenal sebagai daerah dengan layanan pemeriksaan HIV/AIDS yang ramah dan tanpa stigma

Tayang:
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: ferri amiril
TribunPriangan.com/Jaenal Abidin
TEMUAN BARU - Kabid P2P Dinas Kesehatan Ciamis, Edis Herdis menjelaskan bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 terdapat 93 temuan baru kasus HIV, hasil dari layanan pemeriksaan mandiri maupun penjangkauan aktif ke populasi berisiko. 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Kabupaten Ciamis dikenal sebagai daerah dengan layanan pemeriksaan HIV/AIDS yang ramah dan tanpa stigma. 

Kondisi ini membuat banyak warga dari luar daerah memilih memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan setempat. 

Dampaknya, angka kasus HIV yang tercatat di Ciamis terus meningkat meski tidak seluruhnya berasal dari warga Ciamis.

Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 terdapat 93 temuan baru kasus HIV, hasil dari layanan pemeriksaan mandiri maupun penjangkauan aktif ke populasi berisiko.

Kabid P2P Dinas Kesehatan Ciamis, Edis Herdis, menegaskan bahwa kenaikan angka bukan sepenuhnya mencerminkan penularan lokal, melainkan meningkatnya akses warga terhadap layanan yang dianggap aman dan zero stigma.

Baca juga: 2 Balita Kembar Main Dekat Kolam Ikan di Ciamis, Saat Dicek Keluarga Keduanya Sudah Tenggelam

“Banyak yang memeriksakan diri di Ciamis karena merasa lebih nyaman dan zero stigma. Jadi data kami merupakan akumulasi layanan yang diakses secara nasional, bukan hanya oleh warga Ciamis,” jelasnya, Kamis (4/12/2025).

Hingga akhir 2025, fasilitas kesehatan di Ciamis mencatat 644 kasus HIV, dengan 605 orang pernah menjalani perawatan, 533 di antaranya pernah mengonsumsi ARV, dan 425 masih rutin menjalani terapi. 

Sementara sisanya terputus terapi akibat berbagai kendala seperti mobilitas tinggi dan masalah sosial.

Temuan 93 kasus baru pada tahun ini berasal dari hasil skrining di puskesmas, rumah sakit, serta penjangkauan ke komunitas. 

Berdasarkan data Januari–Juni 2025, distribusi usia kasus baru menunjukkan penularan terjadi di berbagai kelompok: usia 5–14 tahun (2 kasus), usia 15–19 tahun (6 kasus), usia 20–24 tahun (13 kasus), usia 25–49 tahun (33 kasus), dan usia 50 tahun ke atas (2 kasus).


Menurut Edis, kasus pada anak di bawah usia 14 tahun umumnya merupakan penularan dari ibu ke anak yang baru teridentifikasi saat anak masuk usia sekolah. 

Untuk remaja dan dewasa muda, perilaku seksual berisiko menjadi faktor dominan, sementara penularan dari jarum suntik kini terus menurun.

Edis menegaskan bahwa penularan tidak hanya terjadi pada populasi kunci seperti komunitas LGBT, tetapi juga cukup tinggi pada pasangan heteroseksual.

"Tidak semua kasus berasal dari populasi kunci. Penularan pada pasangan heteroseksual juga signifikan dan harus menjadi perhatian,” tegasnya.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved