Selasa, 5 Mei 2026

Dianggap Sesat, Ormas Islam di Kota Tasikmalaya Tolak Konser Hindia

Menurutnya ini adalah bagian dari propaganda regenerasi bangsa yang harus dijaga karena tentu sangat bahaya

Tayang:
Penulis: Jaenal Abidin | Editor: Dedy Herdiana
Tribunpriangan.com/Jaenal Abidin
TOLAK KONSER HINDIA - Forkopimda bersama ormas Islam ketika menggelar rapat koordinasi terkait polemik rencana konser band Hindia yang diselenggarakan ruang bermusik. Rakor ini berlangsung, di Saung Toncom, Sabtu (12/7/2025). 

Laporan wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin 

TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Konser Hindia yang digawangi Daniel Baskara mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat hingga ormas Islam di Kota Tasikmalaya.

Rencananya konser musik bertajuk Ruang Bermusik 2025, yang akan dihelat di Lanud Wiriadinata Tasikmalaya, Sabtu (19/7) sampai Minggu (20/7/2025). 

Selain Hindia, konser ini juga dijadwalkan dengan menghadirkan Nadin Amizah, Maliq and D'Essentials, Whisnu Santika, Lomba Sihir, Adnan Veron x HBRP, Feast, dan Perunggu.

Penolakan kehadiran grup musik ini tampil di Tasikmalaya menyusul asumsi jika Hindia kerap menampilkan aksi panggung yang dianggap tak selaras dengan nilai-nilai agama. 

"Ini terkait band Hindia yang bermasalah bukan konsernya, dan yang bermasalah bukan di musiknya, kita atas nama masyarakat Tasikmalaya tidak mempermasalahkan adanya event musik," ucap Ketua Al Mumtaz di Kota Tasikmalaya Ustaz Hilmi Afwan ketika memberikan keterangan usai menghadiri rakor bersama di Saung Toncom, pada Sabtu (12/7/2025).

Baca juga: Detik-detik Gerebek Arena Judi Sabung Ayam di Kota Tasikmalaya, Mulanya Ormas Ini Patroli Miras

Hanya saja terkait band ini ada indikasi band Satanic yang melanggar norma-norma syariat dengan pemahaman berbeda serta simbol.

"Yang dipermasalahkan Band ini ada indikasi band satanic, band yang memang nyerempet pada norma-norma melanggar syariat, dengan pemahaman, simbol-simbol dajal, baphomet itu saja yang jadi permasalahan," tegas Hilmi.

Menurutnya ini adalah bagian dari propaganda regenerasi bangsa yang harus dijaga karena tentu sangat bahaya ketika memang diizinkan tetap tampil.

"Pemahaman satanic ini melanggar norma agama, seluruh agama pun tidak menghendaki, karena itu nuansa setan termasuk dajal. Semua agama pun bertolak belakang dengan pemahaman seperti itu," ungkapnya.

Hilmi menambahkan, ketika band ini tidak diizinkan tampil tentu menjadi sebuah hasil yang patut disyukuri. Karena sampai sekarang menunggu rekomendasi dari Polda Jabar.

"Kalaupun tidak diizinkan Alhamdulillah, tapi ketika diizinkan nanti tentu kita atas nama bagian daripada warga Tasikmalaya berlepas diri, bukan berarti kita demo besar-besar, itu tidak juga," tuturnya.

Sebetulnya komitmen ini pernah dilaksanakan bersama EO seluruh Kota Tasikmalaya untuk berkoordinasi dengan ulama menyatukan aspirasi.

Namun ia menilai, penyelenggara yang sekarang tidak pernah menempuh jalur tersebut, sehingga menjadi sesuatu yang dipermasalahkan.

"Kita dulu sudah ada komitmen dengan EO ketika ada event-event yang akan tampil ada koordinasi dengan ulama, atau penampilan apa dan tidak melanggar syariat, seperti itu. Tapi ini tidak ditempuh oleh mereka sebagai penyelenggara," ucap Hilmi.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved