Naskah Khutbah Jumat
Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025: Rendah Hati Melatih Kesabaran
Berikut Ini Dia Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025 Bertemakan Menjadi Insan yang Rendah Hati
Penulis: Riswan Ramadhan Hidayat | Editor: ferri amiril
Tawadhu berarti menempatkan kita lebih rendah daripada mereka semua. Hal ini guna mengubur sifat sombong yang kerap kali bergelora dalam diri kita. Tawadhu penting kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan kepada Allah SWT maupun kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya, meliputi manusia, hewan, tumbuhan, dan sebagainya. Lawan dari tawadhu adalah sombong.
Sombong adalah pangkal berbagai macam sifat tercela lainnya. Kita tentu hafal betul kisah iblis yang menolak bersujud dalam rangka menghormati Nabi Adam AS. Itu tidak lain karena kesombongan makhluk terlaknat tersebut. Pasalnya, iblis merasa lebih baik karena diciptakan dari api, sedangkan Nabi Adam AS diciptakan dari tanah.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025/ 19 Zulkaidah 1446 H: Berhati-hatilah dalam Memilih Rujukan Agama
Hadirin yang Dirahmati Allah
Imam al-Ghazali dalam kitabnya Bidayatul Hidayah menegaskan bahwa merasa lebih baik dari makhluk lain adalah bentuk kesombongan. Karenanya, kita harus meyakini bahwa sesungguhnya yang terbaik di sisi Allah SWT itu adanya di akhirat kelak. Hal demikian tentu saja tidak berada dalam jangkauan kita sebagai manusia biasa.
Dan kita harus memiliki keyakinan bahwa orang lain itu lebih baik dari kita. Jika dalam pandangan mata terlihat buruk, kita tidak dapat menganggap keseluruhannya demikian. Setiap manusia pasti memiliki sisi yang baik. Imam al-Ghazali memberikan tips bagaimana kita menggunakan kacamata tawadhu dalam melihat siapa saja, anak kecil, orang tua, orang bodoh, atau kafir sekalipun.
Anak kecil tentu belum dihukumi taklif sehingga tidak bermaksiat kepada Allah SWT, sedangkan hari-hari kita tidak pernah lepas dari bermaksiat kepada-Nya. Dengan begitu, kita tidak perlu ragu untuk mengakui bahwa anak kecil itu lebih baik dari diri kita. Orang yang lebih tua dari kita seyogyanya dipandang lebih baik. Sebab, mereka lebih dahulu daripada kita dalam beribadah kepada Allah SWT. Karenanya, tak ada halangan lagi untuk meyakini bahwa mereka lebih baik daripada kita. Sekalipun ada orang yang tampak, mohon maaf, bodoh, kita juga harus meyakini kebaikan mereka. Sebab, jika pun mereka melakukan maksiat, tentu itu didasari atas ketidaktahuannya, sedangkan kita tetap bermaksiat, meskipun kita tahu bahwa hal tersebut salah dan dilarang Allah SWT.
Bahkan, terhadap orang kafir pun kita tidak boleh merasa lebih baik. Sebab, mungkin saja di suatu saat nanti, atau mungkin di akhir hayatnya kelak, ia mengucapkan syahadat dan wafat dalam membawa keislaman dan keimanan. Hal demikian bukanlah hal yang mustahil dan memang banyak terjadi.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025: Bertanggung Jawab Atas Qadha dan Qadar di Hadapan Allah
Jamaah Jumat yang Mulia
Dengan keyakinan demikian, perasaan tidak lebih baik dari orang lain, maka kita akan berusaha untuk terus memperbaiki diri, berintrospeksi, mencari kesalahan diri agar tidak lagi mengulanginya di kemudian hari dan menggantinya dengan sikap dan laku yang baik.
Kita juga tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi justru mencari dan menemukan kebaikannya untuk kita tiru, kita teladani sebaik mungkin sehingga kita bukan saja terhindari dari laku buruk, tetapi justru melampaui hal tersebut, yakni dengan berlaku baik.
Oleh karena itu, jamaah Jumat sekalian, penting bagi kita untuk menerapkan sikap tawadhu dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, orang tawadhu adalah hamba Allah SWT yang utama. Hal ini ditegaskan Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Furqan ayat 63 sebagai berikut:
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
Artinya: "Adapun hamba-hamba (utama) Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan 'salam'."
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025/19 Zulkaidah 1446 H: Proporsi Ibadah Penembus Pintu Rahmat Allah
Para Hadirin Rahimakumullah
Imam Abu Ishaq Ats-Tsa'labi dalam kitabnya, Al-Kasyfu wal Bayan fi Tafsiril Qur'an menjelaskan bahwa hamba yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah hamba utama, yakni orang yang tawadhu, rendah hati. Bahkan, jika ada orang yang 'mengkhutbahi', menasihati dengan kata-kata yang justru tidak membuatnya nyaman, orang tersebut tetap menjawabnya dengan doa keselamatan.
Naskah Khutbah Jumat
khutbah Jumat
Salat Jumat
Menjadi Insan yang Rendah Hati
Sayyidul Ayyam
Teks Khutbah Jumat
| 5 Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025/18 Zulkaidah 1446 H, Ragam Tema Bermakna Mendalam dalam Kehidupan |
|
|---|
| Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025/ 19 Zulkaidah 1446 H: Bahaya Sifat Munafik |
|
|---|
| Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025/ 19 Zulkaidah 1446 H: Berhati-hatilah dalam Memilih Rujukan Agama |
|
|---|
| Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025: Bertanggung Jawab Atas Qadha dan Qadar di Hadapan Allah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/salat-jumat-di-masjid-al-jabbar-gani-1.jpg)