Masjid Agung Ciamis Ikon Religi dan Sejarah yang Terus Bertransformasi
Masjid Agung Ciamis dibangun sekitar tahun 1882 pada masa pemerintahan Bupati Galuh RAA Kusumadiningrat, yang dikenal dengan sebutan Kangjeng Prebu.
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Masjid Agung Ciamis tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga simbol sejarah panjang yang telah melewati berbagai perubahan zaman.
Berdiri megah di Jalan Nasional Ciamis, masjid ini kerap menjadi tempat persinggahan bagi para musafir dari luar daerah.
Dengan arsitektur yang terus berkembang dan lingkungan yang semakin nyaman, Masjid Agung Ciamis menjadi salah satu ikon utama di Kabupaten Ciamis.
Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Ciamis terus melakukan berbagai upaya penataan, baik dari sisi fasilitas maupun tata ruang, agar para jemaah dapat beribadah dengan lebih nyaman dan khusyuk.
"Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan Islam, dan berbagai kegiatan sosial lainnya," kata Kurnia Soemantri, Sekretaris Umum DKM Masjid Agung Ciamis, Jumat (21/3/2025).
Baca juga: Kemegahan Masjid Agung Manonjaya, Masjid Berarsitektur Klasik Jawa-Eropa yang Dirikan 1832
Jejak Sejarah Dari Masa Kejayaan hingga Tragedi DI/TII
Masjid Agung Ciamis dibangun sekitar tahun 1882 pada masa pemerintahan Bupati Galuh RAA Kusumadiningrat, yang dikenal dengan sebutan Kangjeng Prebu.
Beliau adalah sosok yang berjasa dalam pembangunan berbagai sarana infrastruktur pemerintahan dan fasilitas publik di Ciamis. Salah satu warisannya adalah pendirian masjid jami di berbagai desa.
Awalnya, Masjid Agung Ciamis memiliki atap berbentuk kerucut dengan tiga tingkatan, menyerupai arsitektur Masjid Demak dan Masjid Agung Bandung yang lebih dahulu berdiri.
Konstruksi bangunannya didominasi oleh kayu jati, material yang terkenal kuat dan tahan lama.
Namun, sejarah masjid ini juga mencatat peristiwa kelam. Pada tahun 1958, saat gerombolan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) menyerang Ciamis, masjid ini menjadi salah satu sasaran penyerangan.
Beruntung, serangan tersebut tidak sampai memporak porandakan bangunan Masjid Agung, namun tetap ada dampak dari serangan yang terjadj di sekitar Masjid.
Baca juga: Panglima TNI Bangun Masjid Berbentuk Baret di Cijulang Pangandaran, Bupati Citra: Desainnya Unik
Sejak pertama kali dibangun, Masjid Agung Ciamis telah mengalami beberapa kali renovasi besar diantaranya :
1. 1882-1902
Pembangunan awal masjid dimulai oleh Bupati RAA Kusumadiningrat dan diselesaikan pada 1902 di era Bupati RAA Kusumasubrata.
Pada saat itu, masjid memiliki desain khas dengan atap bertingkat tiga dan material utama berupa kayu jati. Prasasti kayu yang mencatat tanggal peresmian masjid—30 Ramadan 1319 H atau 10 Januari 1902—sayangnya kini telah hilang.
2. 1958
Renovasi besar pertama dilakukan setelah pembakaran oleh DI/TII. Bupati Raden Yusuf Suryadipura memimpin proses rekonstruksi dengan beberapa perubahan arsitektur.
Model atap kerucut yang awalnya berbahan genting diganti dengan atap berbahan seng. Selain itu, dua menara dibangun di sisi kanan dan kiri masjid untuk memperkuat struktur bangunan.
3. 1983-1988
Pada masa kepemimpinan Bupati Momon Gandasamita, dilakukan renovasi total terhadap Masjid Agung Ciamis.
Bangunan yang sebelumnya masih didominasi kayu jati mulai beralih ke material beton. Model atap bertingkat yang menjadi ciri khasnya dihilangkan dan diganti dengan kubah beton.
Dua menara yang sebelumnya menggunakan kubah seng juga dirobohkan, digantikan dengan satu menara beton yang lebih kokoh.
4. 2002
Renovasi terakhir dilakukan pada era Bupati Oma Sasmita. Masjid Agung Ciamis semakin diperluas dan dibuat lebih representatif.
Arsitektur modern diterapkan, dengan tambahan satu kubah besar di tengah yang dikelilingi oleh empat kubah kecil.
Di halaman masjid, dua menara besar dibangun sebagai pelengkap estetika dan fungsi masjid.
Selain perubahan pada struktur utama, dilakukan pula pengembangan fasilitas penunjang.
Dibangun basement yang difungsikan sebagai kantor DKM, perpustakaan, serta tempat wudu yang lebih modern dan nyaman.
Di sekitar masjid, taman hijau dengan aneka pepohonan dan bunga ditata dengan baik.
Kini, Masjid Agung Ciamis terus berbenah agar bisa memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Dengan lokasi strategis di jalur nasional, masjid ini kerap menjadi tempat transit bagi para musafir yang melintasi Kabupaten Ciamis.
Oleh karena itu, fasilitas pendukung seperti tempat istirahat, area parkir yang luas, serta kebersihan lingkungan selalu menjadi perhatian utama DKM.
Tidak hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, mulai dari kajian Islam, santunan anak yatim, hingga layanan pendidikan Al-Qur'an.
Masyarakat pun semakin merasa nyaman dan betah untuk beribadah di masjid yang menjadi kebanggaan warga Ciamis ini.
Masjid Agung Ciamis bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga simbol ketahanan dan keberlanjutan spiritual masyarakat Ciamis.
Dari peristiwa tragis hingga modernisasi, masjid ini tetap menjadi rumah bagi umat Islam dalam beribadah dan memperkuat nilai-nilai keislaman.(*)
| Baznas RI Sebut Ciamis Jadi Contoh Nasional, Pengelolaan Zakat Dipuji Transparan |
|
|---|
| Tanam Jagung di Maleber, Polres Ciamis Kebut Target 100 Hektare Dukung Swasembada Pangan |
|
|---|
| Bupati dari Sumatera Barat Kunjungi Ciamis Untuk Lihat Pengelolaan Sampah |
|
|---|
| Siswa PAUD di Ciamis Diajak Naik Moge Polisi, Begini Cara Satlantas Tanamkan Disiplin |
|
|---|
| Unggahan Rekruitmen Relawan MBG di Banjarsari Ciamis Berujung Pembacokan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/MASJID-AGUNG-CIAMIS-Penampakan-Masjid-Agung-Ciamis-Jumat-2132025-1.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.