Kamis, 23 April 2026

Hadapi Banjir Ekstrem, BRIN Tawarkan Modifikasi Cuaca seperti China saat Jalani Olimpiade 2008

Ketua TKEPD BRIN, Agustya Adi Martha mengungkapkan BRIN tengah mengembangkan teknologi pemantauan bencana secara real-time.

Editor: Dedy Herdiana
Tribunpriangan.com/Jaenal Abidin
ILUSTRASI SAWAH TERENDAM - Salah satu lahan persawahan yang gagal panen akibat terendam banjir, Minggu (16/3/2025). Kini BRIN menawarkan teknologi modifikasi cuaca seperti yang dilakukan China saat melaksanakan Olimpiade 2008. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Sejumlah wilayah alami banjir karena hujan deras beberapa waktu lalu.

Peneliti pusat riset limnologi dan sumber daya air, Reni Sulistyowati menyebut faktor lingkungan seperti topografi dan perubahan tutupan lahan ikut memperparah dampak banjir selain faktor curah hujan ekstrem.

Reni menambahkan, fenomena klimatologi global, seperti el nino-southern oscillation (Enso), Indian ocean dipole (IOD), dan madden julian oscillation (MJO) ikut memperbesar curah hujan ekstrem di kawasan Benua Maritim Indonesia.

Data satelit tropical rainfall measuring mission menunjukan korelasi kuat antara curah hujan ekstrem dan peningkatan resiko banjir di sepanjang garis pantai Indonesia.

"Banjir itu tak bisa hanya dipengaruhi curah hujan, tapi banyak faktor lain yang berperan dalam terjadinya limpasan, semisal infiltrasi, evaporasi, aliran permukaan, air tanah, dan kondisi lingkungan sekitar," katanya, Senin (17/3/2025).

Baca juga: Pipa Air Perusahaan di Sungai Cimande Sumedang Bakal Dieksekusi Jika Menghalangi Normalisasi

Reni mengatakan, hasil riset yang menunjukan banjir 2025 lebih parah dibanding banjir 2020 dan 2022.

Menurutnya, data curah hujan GSMaP (global satelite mapping of precipitation) mencatat intensitas hujan mencapai 21,37 mm per jam, dengan akumulasi harian 236,44 mm pada puncaknya (2–4 Maret). 

Simulasi hidrologi dengan model Rainfall-Runoff-Inundation (RRI) menunjukkan bahwa area terdampak dengan genangan lebih dari 50 cm mencapai 43 km⊃2;, sedangkan genangan di atas 100 cm mencakup 24 km⊃2;.

Berikutnya, sirkulasi angin darat-laut (sea breeze) juga memperburuk kondisi dengan memicu hujan deras di malam hari dan di daerah aliran sungai (DAS) Bekasi, Cikeas, dan Cileungsi. 

"Kondisi DAS kali Bekasi memerlukan perhatian serius, karena infrastruktur yang ada belum memadai, ditambah dengan rendahnya kesadaran lingkungan dan lambatnya respons pemerintah,” kata Reni.

Hasil survei 2022 terhadap warga terdampak banjir di Jatirasa dan Bojongkulur, menunjukkan minimnya perhatian pemerintah dalam mitigasi jangka panjang.

Survei itu juga mengungkap komunitas lokal seperti KP2C (Komunitas Peduli Cileungsi-Cikeas) dan KOMPI (Komunitas Pencinta Lingkungan) memegang peran penting dalam membantu penanganan banjir.

Meski memiliki keterbatasan dana dan akses informasi, inisiatif mereka mampu membantu warga terdampak secara langsung.

Ketua Kelompok Riset Teknologi Kebencanaan dan Energi Perairan Darat (TKEPD) BRIN, Agustya Adi Martha mengungkapkan BRIN tengah mengembangkan teknologi pemantauan bencana secara real-time.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved