Selasa, 12 Mei 2026

Adi Haryanto, Pemuda Ciamis yang Sukses Jadi Petani Cabai dengan Omzet Puluhan Juta

Adi Haryanto, Pemuda Ciamis yang Sukses Jadi Petani Cabai dengan Omzet Puluhan Juta

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/ai sani nuraini
Adi Haryanto, Pemuda Ciamis yang Sukses Jadi Petani Cabai dengan Omzet Puluhan Juta 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini


TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Di tengah pesatnya perkembangan karier di sektor industri dan jasa, Adi Haryanto (23), pemuda asal Kampung Cikalapa, Desa Pamokolan, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, memilih jalan berbeda.

Ia menekuni profesi sebagai petani cabai, sebuah langkah yang bagi sebagian orang dianggap ekstrem, namun kini membawa kesuksesan besar.

Tak hanya dikenal sebagai Ketua KNPI Cihaurbeuti dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Adi juga telah menunjukkan bahwa pertanian dapat menjadi pilihan karier yang menjanjikan, terutama bagi generasi muda.

Perjalanan Adi sebagai petani dimulai sejak usia 20 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa semester pertama. 

Inspirasi utamanya datang dari tulisan K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang menyebut petani sebagai penolong negeri.

Baca juga: 9 Kecamatan dan 27 Desa di Ciamis Rawan Longsor BPBD Imbau Perkuat Mitigasi

“Saya mulai bertani sejak masih kuliah semester satu. Dari situ, saya terpikir untuk fokus bertani cabai. Selain itu, tulisan pendiri NU sangat menginspirasi saya bahwa petani adalah pilar penting bagi bangsa,” ujar Adi, Selasa (21/1/2025).

Keputusan Adi untuk menjadi petani cabai berbuah manis. Kini, ia mampu meraup omzet rata-rata Rp36 juta sekali panen.

“Alhamdulillah, dari hasil panen cabai, saya bisa memperoleh omzet yang cukup besar. Ini membuat saya semakin yakin dengan pilihan saya,” kata Adi.

Namun, Adi tak hanya puas dengan kesuksesannya sendiri. Ia memiliki misi untuk mengubah pola pikir petani konvensional di Ciamis yang menurutnya kurang inovatif.

“Saya melihat rata-rata petani di Ciamis masih berpikir sempit. Saya ingin mereka berpikir lebih jauh, lebih inovatif, agar hasil pertanian mereka juga meningkat dan mereka bisa sukses,” tegasnya.

Baca juga: Klasemen Liga Nusantara Seusai PSGC Ciamis Ditahan Imbang Sumut United, Persaingan Kian Sengit

Meski telah mencapai kesuksesan, Adi mengakui bahwa menjadi petani bukan tanpa tantangan.

Salah satu kendala utama yang dihadapinya adalah harga pupuk dan pestisida yang semakin mahal.

“Kadang cukup prihatin juga dengan harga pupuk yang mahal. Tapi saya tetap semangat menjalani pekerjaan ini, karena saya yakin pertanian adalah masa depan yang menjanjikan,” ujar Adi.

Adi juga berharap pemerintah lebih memperhatikan nasib petani, khususnya terkait harga pupuk yang terjangkau.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved