Rabu, 22 April 2026

Upacara Adat Nyangku di Panjalu Kembali Digelar di Tatar Galuh Ciamis

Upacara Adat Nyangku atau pembersihan benda-benda pusaka peninggalan leluhur itu rutin dilakukan setiap tahunnya.

Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/ai sani nuraini
Upacara Adat Nyangku atau pembersihan benda-benda pusaka peninggalan leluhur itu rutin dilakukan setiap tahunnya. 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Upacara Adat Nyangku atau pembersihan benda-benda pusaka peninggalan leluhur itu rutin dilakukan setiap tahunnya.

Di tahun ini, Nyangku digelar di Lapangan Borosngora, Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Senin (30/9/2024).

Antusiasme masyarakat yang hendak menyaksikan prosesi sakral itu sangat tinggi, hal itu terbukti dengan penuh sesaknya area lapangan Borosngora oleh warga.

Pj Bupati Ciamis, Engkus Sutisna yang turut hadir dalam kegiatan tradisi Nyangku itu menegaskan, bahwa Tatar Galuh Ciamis memiliki kekayaan budaya yang beragam, baik dalam bentuk Warisan Budaya Benda (WBB) maupun tak benda (WBTB). 

Warisan tersebut, memiliki nilai sejarah dan budaya yang harus dilestarikan, termasuk situs cagar budaya, museum, serta seni tradisional dan kontemporer.

Salah satu wujud kekayaan budaya tersebut adalah penyelenggaraan upacara adat sakral Nyangku, yang memiliki nilai filosofis tinggi dalam memperkuat jati diri serta melestarikan tradisi lokal.

Menurut Engkus, Nyangku menjadi wadah untuk mengekspresikan ide dan karya seni tradisional maupun kontemporer, sekaligus mencerminkan kearifan lokal di Kabupaten Ciamis.

“Alhamdulillah, tahun ini upacara Nyangku dapat dilaksanakan dengan baik dan meriah, tetap memprioritaskan kesehatan serta menjaga silaturahmi diantara warga Tatar Galuh yang mencintai budayanya,” tambahnya.

Ia berharap pelaksanaan tradisi Nyangku terus menumbuhkan rasa memiliki dan bangga terhadap kebudayaan lokal sebagai bagian dari budaya nasional. 

Sementara itu, Pemangku Adat sekaligus Penanggungjawab Kesakralan Yayasan Borosngora,  Rd. Agus Gunawan Cakradinata menjelaskan, bahwa tradisi Nyangku memiliki akar kuat dalam sejarah dan budaya masyarakat Panjalu

Menurut penjelasannya, istilah Nyangku itu berasal dari kata dalam bahasa Arab "nyangko" yang berarti membersihkan.

Tradisi ini bertujuan untuk membersihkan benda-benda pusaka bersejarah, salah satunya adalah pedang peninggalan Sayidina Ali.

Dijelaskan Agus, bahwa Prabu Boros Ngora, yang merupakan seorang tokoh penting dalam sejarah Panjalu, menerima pedang ini sebagai cenderamata saat belajar Islam langsung dari Sayidina Ali di Mekkah.

“Selain pedang, ada juga tiga cenderamata lainnya, yakni kain ihram, sorban, dan seperangkat pakaian,” ucapnya.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved