Senin, 18 Mei 2026

Dinkes Sanggah Terjadi KLB Demam Berdarah di Kota Tasikmalaya, Tapi Kenaikannya Cukup Tinggi

Dinkes Sanggah Terjadi KLB Demam Berdarah di Kota Tasikmalaya, Tapi Kenaikannya Cukup Tinggi dari data yang didapat

Tayang:
Penulis: Aldi M Perdana | Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/aldi m perdana
Juru Pemantau Jentik atau Jumantik saat memeriksa rumah warga di Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Dinkes Sanggah Terjadi KLB Demam Berdarah di Kota Tasikmalaya, Tapi Kenaikannya Cukup Tinggi 

Laporan Jurnalis TribunPriangan.com, Aldi M Perdana

TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Belum lama ini, Kota Tasikmalaya sempat diisukan berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Tasikmalaya, dr Uus Supangat meluruskan isu yang salah tersebut.

"Sebetulnya, ini perlu disampaikan ulang, barangkali ada salah penafsiran berkenaan dengan konteks KLB DBD ini. Kota Tasikmalaya hari ini secara resmi belum menyatakan KLB, begitupun juga dari tingkat Provinsi Jawa Barat," tegasnya kepada TribunPriangan.com melalui sambungan telepon pada Jumat (9/8/2024).

Pasalnya, tambah Uus, untuk menghitung suatu kasus yang berkaitan dengan kesehatan berstatus KLB, salah satu indikatornya ialah membandingkan jumlah kasus tersebut dalam kurun waktu tertentu di tahun berjalan.

"Misalkan, bulan Juni dengan bulan Juli, dengan bulan seterusnya. Bisa juga dibandingkan dengan tahun yang lalu," jelasnya.

Baca juga: Mengintip Data Stunting 2024 di Kota Tasikmalaya dari Bidang Kesmas Dinkes

Uus tak menampik jika di Kota Tasikmalaya, angka kenaikan kasus DBD sudah sangat siginifikan sekali.

"Memang betul, secara jumlah, kasus DBD di Kota Tasikmalaya itu sangat tinggi, karena sudah masuk ke level waspada, ada 1.200-an lebih kasus DBD terhitung dari Januari sampai Agustus 2024 ini," terangnya.

Akan tetapi, menurut Uus, ada beberapa variabel yang harus dihitung untuk menetapkan suatu kasus menjadi status KLB, seperti luasan sebaran, dampaknya, hingga trends kurvanya.

"Sedangkan kasus DBD di Kota Tasikmalaya, memang dari 3 bulan terakhir itu (Mei, Juni, Juli) ada kenaikan. Bahkan pada Juni-Juli juga memang masih dalam fase puncak kelihatannya," papar dia.

"Nah, Juli ke Agustus ada penurunan. Bahkan penurunannya sudah terjadi luar biasa dan ada yang sangat signifikan. Jadi, belum bisa kami menghitung sebagai KLB," lanjut Uus.

Kendati demikian, menurutnya, yang paling penting dari itu semua ialah upaya penanganannya.

"Mau KLB atau tidak, yang terpenting kami serius dalam menangani DBD ini. Mulai dari edukasi, pelatihan kader untuk gerakan Satu Rumah Satu Jentik, membentuk Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang saat ini sudah masif di masyarakat dan dilaksanakan di semua kecamatan," terang Uus.

Bahkan, ia juga mengaku bahwa pada Oktober-November 2023 lalu, Dinkes Kota Tasikmalaya terlah melatih kurang lebih 1000 kader untuk gerakan Satu Rumah Satu Jentik. "Itu untuk mengantisipasi kejadian DBD di tahun berjalan ini (red: 2024)," ucapnya.

Tak hanya itu, Uus juga mengatakan, pihaknya telah melakukan kerjasama lintas sektor.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved