Minggu, 19 April 2026

Cerita Samirin Nelayan Pangandaran yang Ceritakan Tragedi Tsunami, 12 Jam Cari Keluarga

Cerita Samirin Nelayan Pangandaran yang Ceritakan Tragedi Tsunami, 12 Jam Cari Keluarga

Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/kiki andriana
Cerita Samirin Nelayan Pangandaran yang Ceritakan Tragedi Tsunami, 12 Jam Cari Keluarga 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com, Kiki Andriana 

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Samirin (44) warga Kampung Bulak Laut, Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran sedang menikmati hembusan angin laut sambil menunggu wisatawan datang menyewa papan selancarnya, Jumat (8/3/2024).

Melihat laut, sesekali dia merasa getir. Namun perasaan itu buru-buru ditepiskannya. Bahwa hidup harus berlanjut. Tsunami yang memorak porandakan pantai selatan Jawa, termasuk Pangandaran pada Senin, 17 Juli 2006 biarlah menjadi memori untuk tetap berhati-hati. 

Pada peristiwa itu, ratusan orang tewas. Tsunami diawali gempa 6,8 skala richter di Pangandaran pukul 15.19 hari tersebut, lalu gempa susulan 5,5 SR di Pameungpeuk. Setelah gempa, tsunami setinggi 2-4 meter menerjang. 

"Waktu itu saya ada di pantai, tapi itu memang setelah liburan. Setelah kejadian di Aceh (2004) kita tidak tahu tanda-tanda tsunami bagaimana. Setelah kejadian di Pangandaran baru ada plang-plang peringatan, pemberitahuan, dari pemerintah," kata Samirin. 

Ketika tsunami terjadi, Samirin berada di Pantai Barat Pangandaran. Dia menyaksikan bagaimana air laut surut lalu dalam waktu yang sebentar ombak naik ke daratan. 

"Tiga kali. Pertama narik lalu hantam, pecah semua yang dipantai. Narik lagi, hantam perhotelan. Sampai tiga kali. Yang kedua yang paling besar," katanya. 

Karena hari Senin, Samirin menyebut ketika itu wisatawan terbilang sepi. Sebab mereka pulang ketika Minggu sore. Namun, korban tetap ada. 

"Perahu saya hancur semua, mesin semua, selancar, hancur," katanya. 

Istri para nelayan seperti istri Samirin, rata-rata berjualan kopi di pantai Pangandaran. Ketika tsunami terjadi, istri Samirin sedang tak berjualan. 

"Istri di rumah, malah anak saya yang di pantai. Anak baru bisa belajar bicara waktu itu. Selamat karena buru-buru saya kejar dan bawa lari," katanya. 

Samirin dan anaknya pergi ke Purbahayu. Daerah pegunungan tidak jauh dari pantai. Dia masih belum tenang, sebab belum bertemu istrinya. Dia lalu mencarinya. 

"Ketemu malam hari di persawahan. Semua orang mencari keluarganya yang hilang. Ketemu sama istri langsung peluk, banyak tetangga yang nyari di rumah sakit, sampai marah-marah, ada yang ketimpa benteng, meninggal, saya berpikiran negatif. Tapi akhirnya ketemu lagi dengan istri," katanya. 

Di pengungsian, ada yang tinggal 1-2 bulan mengandalkan hidup alakadarnya. Namun, Samirin tak betah, Sebulan setelah kejadian, dia kembali ke laut dan mencari ikan. 

"Tsunami malah membuat ikan pada ke pinggir. Ya mau bagaimana lagi, dulu kondisinya yang penting buat makan, ke pantai juga belum normal. Habis tsunami ikan malah ke pinggir, ikan banyak, mancing memberanikan diri,"  

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved