Rabu, 6 Mei 2026

Ponpes Modern Nurul Islam

Mengulik Perjalanan Sejarah Ponpes di Tasikmalaya yang Dibangun oleh Penolakan dan Rasa Putus Asa

Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Nurul Islam terletak di Kampung Babakan Asem, Desa Pangliaran, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, Jabar

Tayang:
TribunPriangan.com/ Aldi M Perdana
Pimpinan Pondok Pesantren Modern Nurul Islam, Saepunurzaman saat ditemui TribunPriangan.com. 

Laporan Jurnalis TribunPriangan.com, Aldi M Perdana

TRIBUNPRIANGAN.COM, KABUPATEN TASIKMALAYA - Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Nurul Islam terletak di Kampung Babakan Asem, Desa Pangliaran, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya, sekira 65 kilometer ke arah selatan, melintasi jalan yang berkelok, menanjak, menurun, bahkan beberapa titik jalanan berlubang.

Saat ini, ponpes yang berdiri sejak 24 Mei 2012 lalu itu mendapat respons positif dari masyarakat sekitar.

Baca juga: Jadwal Imsakiyah dan Adzan Magrib Hari Ini, Rabu 13 Maret 2024 untuk Wilayah Kabupaten Tasikmalaya

Salah satunya seperti yang diutarakan Ecep selaku warga setempat. “Ya dengan adanya kehidupan santri di lingkungan kami, tentu itu jadi semacam bimbingan, supaya anak-anak kecil di sini dijauhkan dari hal-hal yang mudharat,” ucapnya kepada TribunPriangan.com saat ditemui pada Senin (11/3/2024).

Kendati demikian, sejarah berdirinya Ponpes Modern Nurul Islam tidak lepas dari kisah getir pimpinannya saat ini, yakni Kyai Saepunurzaman.

Pada 1993 silam, Saepunurzaman diketahui merantau dari kampungnya menuju Kota Bandung, Jawa Barat untuk menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi dengan mengambil Fakultas Dakwah.

Baca juga: SINOPSIS Drakor The Escape of the Seven: Resurrection, Tayang 22 Maret 2024, Temani Ngabuburit

Restu kedua orangtuanya menyertai keberangkatnya itu usai Saepunurzaman menuntaskan pendidikan pesantrennya di Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Bertahun-tahun lamanya di perantauan, setelah lulus kuliah pun, ia bekerja di Kota Bandung. Bahkan, ia menikahi seorang perempuan asal Cibiru.

Setelah memiliki seorang anak dan pekerjaan yang mapan, pada 2002 orang tua Saepunurzaman mengunjungi anaknya itu ke Kota Bandung.

Baca juga: Jadwal Imsakiyah dan Adzan Magrib Hari Ini, Rabu 13 Maret 2024 untuk Wilayah Kabupaten Tasikmalaya

“Waktu itu, bapak saya datang. Ngobrol seperti biasa. Melepas rindu. Tapi, di ujung pembicaraan, bapak minta saya kembali ke kampung,” ungkap Saepunurzaman.

Alasannya, orang tuanya meminta dirinya untuk melanjutkan lembaga pendidikan yang telah dibangun di kampung halaman. Lembaga pendidikan tersebut setingkat Masrasah Tsanawiyah (MTs) atau setara SMP.

“Tapi waktu itu, saya tidak mau pulang, karena sudah nyaman di Bandung. Sementara saat itu, bapak bilang, murid di sana hanya 9 sampai 12 orang,” jelas Saepunurzaman.

Baca juga: Jadwal Imsakiyah dan Adzan Magrib Hari Ini, Rabu 13 Maret 2024 untuk Wilayah Kabupaten Tasikmalaya

Lantas, dirinya juga mempertanyakan sumber biaya operasional MTs yang dibangun oleh bapaknya tersebut.

“Katanya, dari pensiunan Bapak. Saya sempat kaget. Berarti, penghasilan di sana betul-betul kecil. Belum lagi anak dan istri saya bagaimana? Apakah mau dibawa hidup di kampung? Pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat saya menolak permintaan bapak waktu itu,” jelasnya.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved