Sabtu, 2 Mei 2026

Survei Terbaru SMRC, Ganjar-RK Lebih Unggul dari Prabowo-Erick dan Anies-Muhaimin

Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan pasangan Ganjar Pranowo-Ridwan Kamil melesat jauh dari pasangan lain

Tayang:
Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Machmud Mubarok
Istimewa
Ganjar Pranowo-Ridwan Kamil. 

Saiful melanjutkan bahwa sebenarnya ekspektasinya Muhaimin tidak hanya membawa gerbong PKB, namun juga NU secara lebih luas. Gerbong NU lebih besar dari PKB. Jika NU cukup banyak yang mendukung pasangan ini, harapannya adalah meraka akan mendapatkan suara yang cukup besar.

Mengenai Demokrat, Saiful menyatakan bahwa perpindahan suara Demokrat dari Anies cukup cepat terjadi. Walaupun sebelumnya suara massa Demokrat tidak sangat solid mendukung Anies, tapi setidaknya tidak serendah dari temuan survei ini, sekitar 22 persen.

“Perginya pemilih Demokrat dari Anies cukup cepat, hanya dalam waktu beberapa hari setelah deklarasi Anies-Muhaimin,” jelas Saiful.

Sementara massa pemilih PKS cukup solid tetap mendukung Anies. Walaupun PKS tidak ikut dalam deklarasi Anies-Muhaimin bersama PKB dan Nasdem, namun terlihat para elitnya berkomunikasi dengan kedua partai tersebut dan tidak terlihat gejala PKS akan menarik dukungan dari Anies.

“Sejauh ini pemilih PKS solid terhadap Anies dan tidak terganggu Anies berpasangan dengan Muhaimin,” kata Saiful.

Secara keseluruhan, Saiful menyimpulkan bahwa pasangan Anies-Muhaimin, walaupun muncul secara mengejutkan, belum punya efek yang menaikkan dukungan yang signifikan pada Anies ketika dia berpasangan dengan Muhaimin.

Mewakili Tiga Blok Sosiologis: Islam Tradisionalis, Islam Modernis, dan Nasionalis 

Lebih jauh Saiful menjelaskan bahwa deklarasi pasangan Anies-Muhaimin mengejutkan karena keluar dari banyak perkiraan sebelumnya. Banyak yang tidak menghitung bahwa akhirnya Anies akan berpasangan dengan Muhaimin.

Dalam sepuluh tahun terakhir, PKB tidak pernah berkoalisi dengan PKS. Sementara PKS sudah mendukung Anies Baswedan. Terlepas dari apakah PKS akan tetap mendukung Anies, yang menarik adalah bagaimana PKB bisa berkoalisi atau bekerjasama dengan PKS.

Di sisi yang lain, lanjut Saiful, memang terlihat keseriusan Muhaimin untuk menjadi calon presiden atau wakil presiden. Jauh-jauh hari, PKB sudah mendeklarasikan Muhaimin menjadi calon presiden yang mereka usung. Itu adalah harapan yang normal dari seorang ketua partai, terlepas dari apakah itu akan tercapai atau tidak.

Menurut Saiful, nampaknya Muhaimin sebelumnya tidak mencapai kesepahaman dengan Gerindra. Gerindra tidak memberikan keputusan sesuai dengan harapan Muhaimin. Intinya, Muhaimin sebelumnya ingin menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo adalah sesuatu yang serius. Karena itu ketika Prabowo atau Gerindra belum mengambil keputusan, dan ada peluang untuk dia maju sebagai calon wakil presiden, itu kemudian diambil.

“Sebelumnya banyak yang menganggap keinginan Muhaimin menjadi Cawapres Prabowo tidak begitu serius. Itu hanya salah satu langkah politik saja untuk membangun koalisi. Koalisi, mungkin. Tapi untuk menjadi Cawapres agak susah. Dan terbukti keputusan untuk menjadikan Cak Imin (Muhaimin) menjadi Cawapres Prabowo itu terus ditunda. Banyak kalangan yang kemudian menyatakan bahwa Prabowo hanya ingin PKB, bukan Muhaimin. Namun Cak Imin nampaknya memang serius (ingin menjadi Cawapres). Karena itu ketika ada kesempatan dari Nasdem untuk Muhaimin menjadi Bacawapres mendampingi Anies, dia kemudian ambil peluang tersebut,” jelas Saiful.

Karena itu, menurut Saiful, penting untuk melihat bagaimana publik Indonesia bereaksi pada keputusan yang menarik atau out of the box tersebut. Ada sejumlah argumen yang dibangun untuk menyebut pasangan Anies-Muhaimin tersebut. Ada yang menyebut hal ini persatuan antara Islam modernis dan Nahdlatul Ulama (NU) atau Islam tradisionalis. Anies sendiri adalah representasi dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Majelis Penyelamat Organisasi (MPO). HMI MPO memiliki corak Islam politik yang lebih kuat. Saiful menyebut HMI MPO bisa dikatakan sebagai satu faksi dalam HMI yang mewarisi tradisi Islam modernis Masyumi.

Saiful menekankan bahwa kombinasi antara Muhaimin dan Anies ini mempertemukan antara sayap Islam modernis yang diwakili PKS dan Islam tradiosionalis yang diwakili oleh PKB. Namun lebih jauh Saiful melihat adanya Nasdem membuat koalisi ini menjadi lebih lengkap karena bertemunya tiga entitas sosiologis pemilih Indonesia: Islam modernis (PKS), Islam tradisionalis (PKB), dan nasionalis (Nasdem).

“Dilihat dari aspek itu (tradisionalis, modernis, dan nasionalis), koalisi ini lengkap. Ini koalisi yang merepresentasikan tiga blok sosiologis yang berbeda,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved