Dony Ahmad Munir Pindah Partai
Resmi! Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir Gabung Gerindra, Ini yang Dikatakan Dedi Mulyadi
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyampaikan sambutan penuh nuansa budaya dalam deklarasi bergabungnya Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir ke Partai Gerindra
Penulis: Kiki Andriana | Editor: Dedy Herdiana
Ringkasan Berita:
- Dedi Mulyadi sambut bergabungnya Dony Ahmad Munir ke Partai Gerakan Indonesia Raya dengan nuansa budaya Sunda.
- Sumedang ditegaskan sebagai pusat budaya; pembangunan harus berkarakter lokal, termasuk arsitektur ramah alam dan tahan gempa.
- Dedi menolak eksploitasi tambang; kesejahteraan tak boleh merusak gunung, air, dan lingkungan rakyat.
Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Kiki Andriana
TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan sambutan penuh nuansa budaya dalam deklarasi bergabungnya Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Jumat (13/2/2026) malam di Alun-alun Sumedang.
Mengawali pidatonya dengan bahasa Sunda, Dedi menyampaikan sambutan hangat kepada Dony.
“Bagja Kang Dony, wilujeng sumping di keluarga besar Partai Gerindra, berjuang untuk Indonesia Raya,” ucap Dedi.
Artinya, rasa senang dan ucapan selamat bergabung kepada Dony Ahmad Munir di Partai Gerindra untuk bersama-sama berjuang demi Indonesia Raya.
Dedi tidak hanya berbicara soal politik, tetapi juga menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang berbasis pada karakter dan budaya daerah.
Baca juga: Bupati Dony Deklarasi Kepindahannya ke Gerindra di Hadapan Ribuan Warga Sumedang, Ungkap Alasannya
Menurutnya, Sumedang harus kembali ditegaskan sebagai puseur budaya Sunda. “Sumedang ngawangun kabudayaan. Kabudayaan itu menjaga tanah dan airnya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa budaya tidak berhenti pada simbol atau seremoni, tetapi harus tercermin dalam tata ruang, arsitektur, dan kebijakan pembangunan.
“Kalau Sumedang berbudaya, rumahnya juga harus berbudaya,” katanya.
Dedi mencontohkan, rumah di wilayah pegunungan sebaiknya dibangun dengan material yang sesuai karakter alamnya. Rumah pinggir gunung harus pakai bambu, pakai kayu, suhunan pakai ijuk. Supaya kalau ada gempa tidak rubuh.
Sebaliknya, Dedi juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, terutama kawasan pegunungan di Sumedang, agar Sumedang tidak menjadi basis pertambangan.
“Budaya di gunung, pohon harus dijaga. Sumedang jangan jadi basis pertambangan, lieur (pusing),” ujarnya.
Ia menjelaskan, jika eksploitasi berlebihan terjadi, maka yang terdampak bukan hanya alam, tetapi juga masyarakat. “Lieur gunungna, lieur caina, lieur rakyatna,” katanya.
Menurut Dedi, kesejahteraan rakyat tidak boleh dibangun dengan merusak lingkungan. Ia bahkan menyatakan belum pernah menemukan rakyat Sumedang yang makmur karena tanahnya ditambang hingga rusak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/sambutan-dedi-mulyadi-saat-dony-ahmad-munir-sumedang-pindah-ke-gerindra-1.jpg)