Jumat, 24 April 2026

200 Pegiat Ikuti Sarasehan Sumedang, Dorong Pembangunan Berbasis Pelestarian Alam dan Budaya Sunda

Sarasehan ini sekaligus menjadi "kompas" bagi Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam menegaskan komitmennya menjalankan pembangunan

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Dedy Herdiana
TribunJabar.id/Kiki Andriana
SARASEHAN TAHUN BARU - Wakil Bupati Sumedang, M Fajar Aldila saat menghadiri Sarasehan Tahun Baru 2026 itu bertajuk “Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda, di Gedung Negara Sumedang, Sabtu (24/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • 200 pegiat lingkungan, budaya, dan seni ikuti Sarasehan “Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda” di Sumedang.
  • Pemkab Sumedang dorong pembangunan berlandaskan nilai Sunda dan keberlanjutan alam.
  • Sarasehan fokus kolaborasi, aksi nyata, dan pelestarian alam serta budaya Tatar Sunda.

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Kiki Andriana

TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Sebanyak 200 orang pegiat lingkungan, budaya, dan seni berkumpul di Sumedang dalam sebuah sarasehan. Sarasehan Tahun Baru 2026 itu bertajuk “Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda”, yang berlangsung di Gedung Negara Sumedang, Sabtu (24/1/2026).

Sarasehan ini sekaligus menjadi "kompas" bagi Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam menegaskan komitmennya menjalankan pembangunan yang selaras dengan alam dan berakar pada nilai-nilai budaya Sunda

Komitmen itu ditegaskan Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila saat membuka Sarasehan Tahun Baru 2026 tersebut. Menurutnya, tata kelola pemerintahan di Sumedang saat ini berlandaskan nilai-nilai Sunda Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer, yang telah diterjemahkan ke dalam praktik birokrasi dan pelayanan publik.

“Kita punya nilai-nilai budaya Sunda yang telah diadaptasi dalam tata kelola pembangunan daerah. Itu pula yang mengantarkan Kabupaten Sumedang meraih Indeks Pelayanan Publik terbaik di tingkat nasional,” ujarnya.

Baca juga: Wamen Dikdasmen Resmikan Revitalisasi Sekolah Persis di Sumedang, Dorong Pemerataan Pendidikan

Ia menekankan, tema sarasehan menjadi pengingat bahwa dalam pandangan Sunda, alam dan budaya adalah pangkal kehidupan yang melahirkan tata laku serta kebijaksanaan hidup masyarakat.

“Ketika alam terjaga, budaya akan tumbuh. Sebaliknya, ketika alam rusak, yang terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga peradaban manusia itu sendiri,” kata Fajar.

Wabup menilai, berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini harus menjadi alarm kolektif untuk menata ulang cara hidup dan arah pembangunan, dengan menjadikan nilai budaya sebagai penuntun kebijakan.

Memasuki 2026, Pemkab Sumedang mengusung tagline “Sumedang Membumi”, yang menekankan bahwa setiap program pembangunan harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Program pemerintah harus terlihat, teraba, dan terasa. Tapi pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan komunitas dan berbagai elemen masyarakat menjadi kunci,” ujarnya.

Ia berharap sarasehan tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi melahirkan jejaring kolaboratif, rencana aksi, serta resolusi lingkungan yang konkret dan berkelanjutan, tidak hanya bagi Sumedang, tetapi juga Jawa Barat.

“Pemkab Sumedang terbuka untuk berkolaborasi dan mendukung setiap upaya pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan alam dan budaya Tatar Sunda,” katanya. 

Praktisi Budaya dari Aleutan Incu Putu Pangauban Ageung Cimanuk, Asep Maher, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut lahir dari kegelisahan bersama atas masa depan alam dan budaya Sunda di tengah kerusakan lingkungan yang semakin masif.

“Sunda itu alam dan budaya. Ini bukan sekadar slogan, tapi panggilan jiwa untuk kembali mencintai dan merawat apa yang kita miliki,” kata Asep.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved