Selasa, 21 April 2026

Persib Bandung

VAR Kembali Jadi Sorotan, 2 Gol Kontroversial Warnai Laga Dewa United vs Persib

Keputusan wasit utama melalui wasit video assistant referee (VAR) kembali menuai polemik saat Persib Bandung menghadapi Dewa United

|
Editor: Dedy Herdiana
istimewa
AWAL GOL KONTROVERSI - Pemain Dewa United, Messidoro saat menggiring bola yang kemudian memberikan assist kepada Alex Martins hingga tercipta gol pembuka bagi Dewa United ke gawang Persib Bandung yang kontroversial pada laga pekan ke-28 Super League Indonesia 2025/2026 di Banten International Stadium, Senin (20/4/2026) 

Wasit utama kembali berkomunikasi dengan wasit VAR untuk mengecek apakah terjadi pelanggaran (handball) sebelum gol terjadi atau tidak. Akhirnya setelah 3 menit berdiskusi, Yoko kembali mengesahkan gol tersebut setelah mendapatkan review dari wasit VAR.

Anehnya wasit justru memberikan kartu kuning kedua kepada Alex Martins yang berbuah kartu merah. Tak jelas kartu kuning tersebut diberikan karena apa. Jika Martins bersitegang dengan pemain Persib seharusnya pemain Persib pun ada yang kena kartu kuning, tapi nyatanya tak ada pemain Persib yang kena kartu kuning.

Maka pemain Persib di lapangan berasumsi jika kartu kuning tersebut dikarenakan Martins handball sebelum terjadinya gol kedua. Pemain Persib sempat bertepuk tangan karena menganggap Martins menyentuh bola dengan sengaja dan gol dibatalkan. Namun yang terjadi justru wasit tetap mengesahkan gol kedua tersebut, sehingga membuat pemain Persib tampak bingung. 

Jika mengacu pada panduan IFAB (International Football Association Board), sentuhan bola dari Martins bisa dikategorikan handball karena 1) patut diduga sengaja menggerakkan tangan/lengan ke arah bola sehingga bola mengarah ke Noah. 2) posisi tangan tidak alami: menyentuh bola dengan tangan/lengan ketika posisi anggota tubuh tersebut membuat tubuh menjadi lebih besar secara tidak wajar. Dari tayangan ulang posisi tangan Martins tidak rapat dengan badan sehingga bola mengenai tangannya. 

Rekam Jejak Wasit Utama dan VAR

Jika menilik dari rekam jejak (track record) sebelumnya, wasit utama Yoko Supriyanto dan wasit VAR Sance Lawita memiliki catatan kontroversi. Salah satu keputusan kontroversi Yoko Supriyanto adalah di  pekan ke-14 Super League musim 2025/2026 saat memimpin laga PSM melawan Malut United, di Stadion BJ Habibie, Minggu (21/12/2025). Saat itu Malut United mengalahkan PSM dengan skor 1-0.

PSM Makassar berpeluang menyamakan skor menit ke-83. Rizky Eka dijatuhkan ke kotak pinalti oleh pemain Malut. Yoko Supriyanto kemudian menunjuk titik putih. Tak ada protes berlebihan pemain Malut dari tengah lapangan.

Bahkan Yuran Fernandes sudah meletakkan bola di titik putih. Ia sudah mengambil ancang-ancang menendang bola. Begitupula kiper Malut Alan Jose Bernardon sudah bersiap di bawah mistar.

Sementara dari pinggir lapangan, Ciro Alves, menyampaikan protesnya kepada asisten wasit. Setelah Ciro Alves protes,Yoko memutuskan mengecek VAR. Keputusan mengejutkan diambil. Ia membatalkan penalti PSM dan mencabut kartu kuning Angulo.

Beberapa jam kemudian, Komite Wasit Indonesia menyampaikan permohonan maaf kepada PSM Makassar atas keputusan kontroversial Wasit Yoko Supriyanto tersebut. Komite Wasit mengakui ada kekeliruan terkait hadangan Wbeymar Angulo ke Rizky Eka. Keputusan yang benar seharusnya adalah penalti untuk PSM Makassar. 

Sementara itu, wasit VAR Sance Lawita, yang pernah memimpin laga Borneo FC kontra Persebaya pada pekan ke-5 Liga 1 2022/2023, sempat diparkir oleh Komite Wasit PSSI selama delapan pekan. Hal ini dikarenakan ia dianggap lalai dalam menerapkan hukuman di atas lapangan.

Kepastian tersebut tertuang dalam hasil evaluasi tim wasit yang memuat putusan mereka dan dipublikasikan di situs resmi PSSI. Dalam putusan tersebut, Sance Lawita dianggap tidak menerapkan Pasal 12 yang mengatur pelanggaran dan kelakuan tidak patut. "Lalai menerapkan Pasal 12, hanya memberikan kartu kuning (KK) yang seharusnya kartu merah (KM)," bunyi penjelasan sanksi pembinaan untuk wasit tersebut.

Dalam laporan tim evaluasi, juga dijelaskan bahwa pemain Borneo FC melakukan pelanggaran terhadap pemain Persebaya dengan tenaga berlebihan. Bahkan, pelanggaran tersebut dikategorikan sebagai 'very-very dangerous play' atau tindakan yang sangat berbahaya. "Menerjang tulang kering dengan kekuatan," demikian penjelasan putusan tersebut.

Wasit di lapangan harus dapat memberikan jaminan keselamatan kepada pemain sebelum insiden berbahaya terjadi. Jika insiden sudah terjadi, wasit seharusnya bertindak tegas tanpa ada toleransi.

Pernyataan Komite Wasit PSSI tersebut dinilai tepat karena pelanggaran Kei Hirose terhadap pemain Persebaya, Koko Ari, sangat serius. Koko bahkan harus ditandu saat masuk ke bus dari ruang ganti akibat cedera yang dialaminya.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved