Seorang Ibu Minta Bantuan KDM
Antoro Ceritakan Detik-detik Oknum Polisi Datangi Rumah dan Tangkap Anaknya di Pangandaran
Antoro menceritakan detik - detik kedatangan sejumlah oknum polisi yang dinilai tidak sopan ke rumahnya di Cimerak Pangandaran dan menangkap anaknya
Penulis: Padna | Editor: Machmud Mubarok
Ringkasan Berita:
- Seorang ayah bernama Antoro (62) di Desa Kertamukti Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran menceritakan detik - detik kedatangan sejumlah oknum polisi yang dinilai tidak sopan.
- Antoro, mengaku kaget saat rumahnya didatangi sejumlah petugas yang langsung mencari anaknya tanpa penjelasan rinci.
- Ia pun menyoroti sikap petugas yang disebut tidak menunjukkan surat tugas maupun izin saat masuk ke rumahnya.
Laporan Kontributor Tribunjabar.idPangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Seorang ayah bernama Antoro (62) di Desa Kertamukti Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran menceritakan detik - detik kedatangan sejumlah oknum polisi yang dinilai tidak sopan.
Sambil memperagakan kedatangan polisi, Antoro, mengaku kaget saat rumahnya didatangi sejumlah petugas yang langsung mencari anaknya tanpa penjelasan rinci.
Menurut Antoro, peristiwa itu terjadi saat dirinya sedang berada di dalam rumah pada tanggal 7 April 2026 sebelum waktu salat Isya. Saat itu tiba-tiba, datang beberapa orang dan langsung menanyakan keberadaan anaknya.
"Tiba-tiba ada yang datang, nanya mana Aji, mana Aji. Saya bilang anak saya lagi ke Banjar, tapi mereka gak mau jelasin ada apa," ujar Antoro ditemui sejumlah wartawan di rumahnya, Minggu (3/5/2026) siang.
Baca juga: Viral, Seorang Ibu di Pangandaran Curhat Soal Penangkapan Anaknya oleh Polisi, Minta Bantuan KDM
Ia pun menyoroti sikap petugas yang disebut tidak menunjukkan surat tugas maupun izin saat masuk ke rumahnya.
"Mereka langsung masuk, geledah rumah sampai ke kamar-kamar. Saya minta penjelasan, tapi jawabannya gak perlu tahu. Sebagai orang tua, saya jelas keberatan," katanya.
Kejanggalan lain, lanjut Ia, muncul saat anaknya akhirnya ditemukan dan dibawa pulang ke rumah. Ia mengaku melihat langsung adanya tindakan kekerasan.
"Saya lihat sendiri anak saya dipukul dua kali. Saya bilang jangan dipukul, kalau salah ya diproses baik-baik," ucap Antoro.
Tak hanya itu, Antoro juga mengaku sempat dipaksa untuk mengakui barang tertentu sebagai milik anaknya.
"Mereka suruh anak saya ambil obat. Anak saya bilang gak punya. Tapi polisi yang masuk ke dalam, terus seolah-olah ada barang, disuruh pegang. Saya bilang jangan dipegang kalau itu bukan punya kamu," ujarnya.
Antoro bahkan mengaku diancam akan dianggap melindungi pengedar jika tidak mengikuti arahan petugas.
"Saya sampai dibilang kalau gak ngizinin anak saya ambil barang itu, saya bisa dituduh melindungi pengedar. Saya kaget, wong saya saja gak pernah macam-macam," kata Antoro.
Setelah dibawa ke Mapolres Pangandaran, Antoro menyebut kondisi anaknya yang memprihatinkan saat ia menjenguk keesokan harinya. "Badannya bengkak-bengkak, hitam-hitam. Saya gak tega lihatnya," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/Antoro.jpg)